Rabu, 10 Juli 2019

Makhluk legendaris Bunyip mungkin memang benar-benar ada


Bunyip adalah makhluk berukuran besar dalam mitologi suku Aborigin di Australia.

Di banyak benua selama zaman es terakhir, sekitar 50.000 hingga 12.000 tahun yang lalu, spesies megafauna yang telah hidup di sana selama ratusan ribu tahun menjadi punah.

Entah perubahan iklim atau ulah manusia telah menyebabkan kepunahan ini. Ini berarti, tentu saja bahwa orang mungkin mengetahui tentang bagaimana megafauna terlihat, bagaimana mereka berperilaku, bagaimana mereka diburu secara efektif dan seterusnya.

"Apakah ada kemungkinan bagian pengetahuan ini mencapai kita yang hidup sekarang ?", Hebatnya, saran itu tampak masuk akal.

Sebuah kerja sama antara para ilmuwan di Australia dan di Brazil telah menunjukkan bahwa ada banyak kesamaan dalam catatan lisan (dan visual) dari makhluk yang sekarang punah.

Kesamaan ini berasal dari sifat-sifat megafauna di Australia dan di Amerika Selatan dan konteks geologisnya, terutama di bagian yang lebih kering di mana megafauna tertentu lebih umum karena kurangnya vegetasi yang lebat.

Di sebagian besar Australia, spesies megafauna dianggap telah punah sekitar 40.000 tahun yang lalu, meskipun diketahui beberapa pengecualian.

Contohnya, jika Palorchestes azael memang digambarkan di Kimberley Rock Art, maka kemungkinan binatang tersebut bertahan sampai baru-baru ini.


Kesimpulan yang sama dapat ditarik tentang Genyornis, burung besar yang tidak dapat terbang di Australia.


Cara bagaimana burung-burung ini diburu oleh orang Tjapwurung di Australia selatan, telah sampai kepada kita hari ini, menyarankan bahwa Genyornis (atau yang sejenisnya) mungkin telah bertahan secara signifikan hingga baru-baru ini daripada yang dikatakan sebelumnya (yaitu 41.000 tahun).

Penduduk asli Australia juga diketahui hidup berdampingan dengan Zygomaturus trilobus, setidaknya selama 17.000 tahun.


Banyak detail sifat mereka telah dimasukkan ke dalam ingatan budaya dalam waktu yang sangat panjang dari orang-orang Aborigin.

Kesamaan antara rekonstruksi paleontologi berdasarkan informasi tentang megafauna yang telah punah dan gambaran mereka dalam seni batuan kuno, menyisakan sebuah keraguan bahwa apakah suku Aborigin Australia dan Brazil mengenal dengan baik makhluk-makhluk ini.

Dari apa yang kita ketahui tentang dongeng di masyarakat pra-literasi (sebelum tulisan), tampaknya deskripsi asli tentang megafauna Australia dan Brazil yang telah punah dalam ingatan pribumi telah berevolusi seiring berjalannya waktu, dan secara berturut-turut digunakan pada spesies yang ditakuti atau dengan spesies yang tidak mereka kenal.

Di Australia, mungkin bahwa makhluk yang dikenal oleh suku Aborigin Australia sebagai kadimakara awalnya adalah Diprotodon.

Diprotodon

Namun, di beberapa tempat, kadimakara kemudian menjadi nama untuk buaya besar.

Mungkin Bunyip, yang pada dasarnya adalah binatang buas di Australia, yang juga dikatakan mengerang dan melenguh tanpa henti dari lubang air, adalah nama yang baru-baru ini diberikan kepada tikus air besar atau rakali, sesuatu yang bisa disalah artikan sebagai berang-berang.

Rakali

Tetapi, nama "Bunyip" juga mungkin sebelumnya telah ditetapkan pada suksesi (sejumlah makhluk yang berbagi karakteristik tertentu) makhluk aneh.

Sebagai contoh, laporan tahun 1846 yang melaporkan kelompok-kelompok pribumi setempat yang mengingat bahwa Bunyip setinggi pohon karet dan merobek pohon, menempatkan pemikiran tentang Palorchestes azael, yang berperilaku seperti itu.


Salah satu yang paling terkenal adalah Mapinguari, makhluk bipedal besar bercakar tajam, yang kemungkinan didasarkan pada ingatan penduduk setempat tentang seekor sloth tanah raksasa yang seharusnya punah sekitar 12.000 tahun yang lalu.

Kita tidak akan pernah dapat membuktikan secara meyakinkan bahwa kisah-kisah pribumi tentang makhluk luar biasa seperti Bunyip dan Mapinguari, berasal dari penampakan megafauna yang sekarang telah punah.

Tetapi, masuk akal untuk menganggap hal ini mungkin terjadi dalam beberapa kasus.

Ada bukti bagus dari beberapa bagian dunia bahwa cerita tentang pengamatan yang dilakukan pada lebih dari 7.000 atau mungkin lebih dari 10.000 tahun yang lalu, telah sampai kepada kita di hari ini dalam bentuk yang dapat dipahami.

Dengan pemikiran ini, masuk akal untuk mengandalkan ingatan manusia tentang makhluk yang sudah lama punah, sehingga mendukung banyak cerita yang pada umumnya kita anggap sebagai fiksi.

Mungkin banyaknya versi tentang penggambaran Bunyip didasarkan pada banyaknya binatang, entah yang sudah dikenal, atau dugaan spesies telah punah yang masih bertahan hidup, yang kemudian disalah artikan sebagai Bunyip.

Atau mungkin, Bunyip memang makhluk yang belum teridentifkasi, yang saling tumpang tindih dengan laporan-laporan Bunyip (dari kesalahan identifikasi binatang yang sudah dikenal), sehingga tercipta berbagai macam penggambaran Bunyip yang kemudian menyulitkan kita untuk menentukan makhluk seperti apa Bunyip ini.

Beberapa peneliti percaya Bunyip adalah Diprotodon australis yang seharusnya punah 46.000 tahun yang lalu.

Sementara pada tahun 1933, Charles Fenner menyarankan bahwa Bunyip sebenarnya adalah anjing laut, di mana terkadang binatang ini ditemukan jauh ke pedalaman seperti Overland Corner, Loxton, dan Conargo, sehingga mereka bisa disalah artikan sebagai Bunyip.

(Sumber : The Australian Bunyip Might Have Actually Existed)

1 komentar: