Senin, 31 Desember 2018

Misteri Hilangnya Percy Fawcett


Kolonel Percy Harrison Fawcett (1867 - selama atau setelah 1925) adalah seorang ahli georafi, petugas artileri, ahli kartografi, arkeolog, dan penjelajah Amerika Selatan yang menghilang tanpa jejak dalam ekspedisinya untuk menemukan kota kuno yang hilang "Z" di pedalaman hutan Brazil.

Percy Fawcett lahir pada 18 Agustus tahun 1867 di Torquay, Devon, Inggris, dari pasangan Edward Boyd Fawcett dan Myra Elizabeth (née MacDougall).

Ayah Fawcett yang lahir di India adalah anggota dari Royal Geographical Society (RGS).

Kakaknya, Edward Douglas Fawcett (1866–1960), adalah seorang pendaki gunung, seorang okultis Timur, dan penulis buku-buku filosofis dan novel-novel petualangan populer.

Fawcett mengikuti Akademi Militer Kerajaan, Woolwich sebagai kadet dan ditugaskan sebagai letnan Artileri Kerajaan pada 24 Juli 1886.

Pada 13 Januari 1896, dia ditunjuk sebagai ajudan 1st Cornwall (Duke of Cornwall's) Artillery Volunteers, dan dipromosikan sebagai kapten pada 15 Juni 1897.

Kolonel Percy Fawcett

Dia kemudian bertugas di Hong Kong, Malta, dan Trincomalee, Ceylon, di mana dia bertemu calon istrinya (Nina Agnes Paterson), yang ia nikahi pada Januari 1901 setelah sebelumnya mengakhiri pertunangan mereka.

Mereka memiliki dua anak lelaki, Jack Fawcett (lahir 1903), Brian Fawcett (1906-1984) dan satu putri, Joan Fawcett (1910-2005).

Fawcett bergabung dengan Royal Geographical Society pada tahun 1901 untuk mempelajari survei dan pembuatan peta.

Lalu, ia bekerja untuk British Secret Service di Afrika Utara sambil mengejar keahlian surveyor. Dia bertugas di kantor perang di Spike Island, County Cork, dari tahun 1903 hingga 1906, di mana dia dipromosikan menjadi mayor pada 11 Januari 1905.


Ekspedisi awal

Ekspedisi pertama Fawcett ke Amerika Selatan terjadi pada tahun 1906 (ia membantu untuk bertugas di sana pada 2 Mei), saat berusia 39 tahun di mana dia melakukan perjalanan ke Brazil untuk memetakan daerah hutan di perbatasan Brazil dan Bolivia atas perintah dari Royal Geographical Society.

Pada awal tahun 1906, Presiden Royal Geographical Society mengatakan kepada Fawcett, "Lihatlah area (pada peta) ini !, tempat ini penuh ruang kosong karena sedikit yang diketahui mengenai tempat itu."

Percy Fawcett memetakan perbatasan antara
Brazil dan Bolivia (Royal Geographical Society)

Royal Geographical Society telah ditugaskan untuk memetakan daerah tersebut sebagai pihak ketiga yang tidak memihak oleh kepentingan nasional setempat. Fawcett tiba di La Paz, Bolivia pada Juni.

Fawcett sendiri menulis bahwa Amazon tetap menjadi "ruang kosong besar terakhir di dunia".


Percy Fawcett di titik antara Brazil dan Bolivia


Pada ekspedisi tahun 1907, Fawcett diklaim telah melihat dan membunuh anaconda raksasa sepanjang 62 kaki, klaim yang kemudian ditertawakan oleh para ilmuwan.

Gambar berusia tua dari anaconda besar yang diklaim telah dibunuh
oleh Percy Fawcett selama ekspedisi 1906 di Bolivia

Dia melaporkan binatang misterius yang tak dikenal lainnya ke zoologi, seperti anjing kecil mirip kucing seukuran anjing hutan foxhound (Mitla), yang ia klaim telah melihatnya dua kali, dan laba-laba Apazauca raksasa yang dikatakan telah meracuni sejumlah penduduk setempat.

Fawcett melakukan tujuh ekspedisi antara tahun 1906 dan 1924. Dia sebagian besar bersahabat dengan penduduk lokal melalui hadiah, kesabaran, dan perilaku hormat serta sopan santun kepada mereka.

Henry Costin, Police comison, Manley, dan
Percy Fawcett, ekspedisi Amazon ke-5 (1911)

Setelah ekspedisi tahun 1913, dia mengklaim telah melihat anjing yang memiliki hidung ganda. Anjing ini mungkin adalah Double-nosed Andean tiger hounds.

Double-Nosed Andean Tiger Hound

Berdasarkan penelitian dokumenter, pada tahun 1914, Fawcett merumuskan gagasan tentang "kota hilang" yang ia beri nama "Z" (Zed) di suatu tempat di wilayah Mato Grosso di Brazil.

Dia berteori bahwa peradaban kompleks pernah ada di wilayah Amazon dan bahwa reruntuhan yang terisolasi mungkin masih bertahan.

Keyakinan itu didorong oleh penemuan kembali Kota Inca yang hilang, Machu Picchu pada tahun 1911 di Pegunungan Andes Peru.

Machu Picchu ("Gunung Tua", sering disebut ("Kota Inca yang hilang")
berada di atas lembah Ururamba di Peru, sekitar 70 km bara laut Cusco

Selama perjalanannya, Fawcett mendengar rumor tentang sebuah kota rahasia yang terkubur di hutan Chili yang dikatakan memiliki jalan-jalan berlapis perak dan atap yang terbuat dari emas.


Fawcett tidak percaya pada kota emas yang hilang, namun dia memiliki teori bahwa El Dorado (kota Emas yang hilang) bukan sepenuhnya mitos.

Dia berpikir bahwa kisah itu mungkin didasarkan pada kota asli yang berada jauh di hutan hujan Amazon.

Dalam sebuah surat kepada putranya, Brian, Fawcett memiliki gagasan spesifik tentang seperti apa kota itu. Fawcett menulis :

"Saya berharap reruntuhannya bersifat monolitik, lebih kuno dari penemuan Mesir tertua. Menilai berdasarkan tulisan yang ditemukan di banyak bagian di Brazil, penduduk mengunakan tulisan alfabet yang sejenis dengan banyak naskah kuno Eropa dan Asia. Ada rumor, juga, dari sumber cahaya aneh di bangunan, sebuah fenomena yang mengisi suku Indian dengan teror bagi mereka yang mengklaim telah melihatnya. Tempat utama yang saya sebut "Z" - tujuan utama kami - adalah lembah yang berada di atas pegunungan yang tinggi. Lembah itu lebarnya sekitar sepuluh mil, dan kota ini terletak di tengah-tengahnya, didekati oleh jalan besar beralas batu. Rumah-rumahnya rendah dan tak berjendela, dan ada kuil piramidal. Penghuni tempat itu cukup banyak, mereka memelihara hewan peliharaan, dan mereka memiliki tambang yang berkembang dengan baik di perbukitan sekitarnya. Tidak jauh (dari situ) adalah kota kedua, tetapi orang-orang yang tinggal di dalamnya adalah tatanan yang lebih rendah dari "Z". Lebih jauh ke selatan adalah kota besar lain, setengah terkubur dan benar-benar hancur."

Fawcett juga menemukan dokumen yang dikenal sebagai Manuscript 512, ditulis setelah penjelajahan di sertão negara bagian Bahia, dan berada di Perpustakaan Nasional Rio de Janeiro.

Manuscript 512

Dipercaya ditulis oleh bandeirante Portugis João da Silva Guimarães, yang menulis bahwa pada tahun 1753 dia menemukan puing-puing sebuah kota kuno yang berisi arches (lengkungan emas), patung, dan kuil dengan hieroglif (sistem tulisan formal Mesir kuno dari kombinasi elemen logogfar dan alfabet).

Kota itu dijelaskan dengan sangat rinci tanpa memberikan lokasi yang spesifik. Kota ini menjadi tujuan kedua bagi Fawcett, setelah "Z".


Pada awal Perang Dunia I, Fawcett kembali ke Inggris untuk bertugas dengan Angkatan Darat sebagai Reserve Officer di, Royal Artillery, menjadi sukarelawan untuk bertugas di Flanders, dan memimpin brigade artileri meskipun sudah berusia hampir 50 tahun.

Percy Fawcett di tahun 1915

Dia dipromosikan dari mayor ke letnan-kolonel pada 1 Maret 1918, dan menerima tiga mentioned in dispatches atau MiD (salah satu nama yang muncul dalam laporan resmi yang ditulis oleh perwira atasan dan dikirim ke komando tinggi, di mana tindakan gagah atau berjasa di hadapan para musuh dijelaskan) dari Douglas Haig, pada November 1916, November 1917, dan November 1918, dan juga dianugerahi Distinguished Service Order pada Juni 1917.

Setelah perang, Fawcett kembali ke Brazil untuk mempelajari kehidupan liar dan arkeologi setempat.

Percy Fawcett di Amerika Selatan

Pada tahun 1920, dia melakukan upaya sendiri untuk mencari "Z", tetapi harus mengakhirinya setelah menderita demam, setelah sebelumnya terjangkit penyakit berbahaya di dalam hutan, dan karena kudanya terluka, dia terpaksa harus menembaknya.

Ekspedisi terakhir

Pada tahun 1925, dengan dana dari kelompok pemodal yang berbasis di london yang dikenal sebagai Glove, Fawcett kembali ke Brazil bersama putra sulungnya, Jack, dan teman baiknya, Raleigh Rimell, untuk ekspedisi penjelajahan menemukan "Z".

Fawcett bersumpah kepada wartawan, "Kami akan kembali, dan kami akan mengembalikan apa yang kami cari."

Jack Fawcett (anak Fawcett) di tahun 1925.

Fawcett meninggalkan instruksi yang menyatakan bahwa jika ekspedisi ini tidak kembali, tidak ada ekspedisi penyelamatan yang harus dikirim, jangan sampai tim penyelamat menderita karena nasibnya.

Fawcett adalah seorang pria dengan pengalaman bepergian selama bertahun-tahun dan telah membawa peralatan seperti makanan kaleng, susu bubuk, senjata api, suar, sextant (alat navigasi di kapal), dan kronometer (alat yang biasanya digunakan untuk menentukan bujur dengan cara navigasi selestial).

Dengan mata biru, janggut terawat dan topi Stetson, Kolonel Fawcett benar-benar terlihat seperti seorang petualang sejati (Indiana Jones di kehidupan nyata).

Fawcett juga berteman dengan penulis H. Rider Haggard dan Arthur Conan Doyle.

Percy Fawcett di tahun 1911

Teman perjalanannya dipilih berdasarkan kesehatan, kemampuan dan loyalitas terhadap satu sama lain. Fawcett hanya memilih dua sahabat agar perjalanan menjadi lebih ringan dan dengan sedikit pemberitahuan kepada suku-suku asli, karena beberapa di antaranya bermusuhan dengan orang luar.

Pada 20 April 1925, ekspedisi terakhirnya berangkat dari Cuiabá.

Selain dua rekan utamanya, Fawcett ditemani oleh dua pekerja Brazil, dua kuda, delapan bagal (keturunan silang antara kuda betina dan keledai jantan sebagai hewan pengangkut), dan sepasang anjing.

Ekspedisi Percy Fawcett ke Mato Grosso pada tahun 1925

Mereka berkelana ke hutan di mana terbentang sebuah labirin semak-semak yang lebat, dipenuhi sungai-sungai yang dihuni piranha, menghadapi suku-suku kanibal dan wilayah yang belum dipetakan, dengan suku-suku asli yang saling bermusuhan.

Selama minggu-minggu awal ekspedisi tersebut, serangga menjadi ancaman yang paling menjadi masalah.

Nyamuk yang berkerumun dan agas penghisap darah membuat mereka kesulitan untuk tidur dan membuat perjalanan menjadi tidak nyaman, dan kaki Rimell menjadi sangat bengkak karena gigitan kutu.

Tidak terpengaruh oleh hal itu, Fawcett menetapkan kecepatan langkah antara 10 dan 15 mil sehari. Selama satu perjalanan kaki, dia berada jauh di depan teman-temannya sehingga terpaksa berkemah sendirian selama satu malam.

Komunikasi terakhir dari ekspedisi ini terjadi di “Dead Horse Camp” pada 29 Mei 1925, saat Fawcett menulis sepucuk surat kepada istrinya, bahwa dia siap untuk pergi ke wilayah yang belum dijelajahi dengan hanya ditemani Jack dan Raleigh.

Di sana, mereka menurunkan peralatan dan mengirim pemandu kembali ke Cuiabá. Sebelum pemandu asli itu pergi, Fawcett menyerahkan kiriman terakhir yang salah satunya adalah surat kepada istrinya, Nina :

"Jack sehat dan bugar dan semakin kuat setiap hari. Kami berharap untuk melewati wilayah ini dalam beberapa hari... Kamu tidak perlu takut akan segala kegagalan." Itu menjadi perkataan terakhir yang didengar dari mereka.

Pada saat itu, mereka bertiga berkelana sendirian tanpa pemandu asli.

Fawcett telah memperingatkan bahwa ekspedisinya akan menjadi begitu gelap begitu memasuki wilayah yang belum dipetakan. Mereka juga menyatakan akan pergi selama sekitar satu tahun.

Jadi, pada tahun 1927, ketika hampir dua tahun berlalu tanpa ada kabar dari kelompok Fawcett, orang-orang mulai khawatir..

Surat kabar yang sebelumnya memuji Fawcett sebagai seseorang yang kebal terhadap bahaya hutan mulai berspekulasi bahwa dia sudah mati, dan saksi mata pun muncul dengan rumor yang membingungkan.

Foto asli Percy Fawcett dan Raleigh Rimell dengan salah satu
pemandu mereka tak lama sebelum ekspedisi itu menghilang

Sebelum menghilang, mereka dilaporkan melintasi Sungai Xingu, anak sungai tenggara dari Sungai Amazon.

Surat terakhir, yang ditulis dari Dead Horse Camp, memberikan lokasi mereka dan pada umumnya bersikap optimis.


Seorang pria mengklaim bahwa Fawcett telah menjadi penduduk asli dan tinggal di hutan, sementara yang lain mengatakan dia ditahan oleh orang Indian. Klaim lain menyatakan dia telah menjadi kepala suku kanibal di sepanjang Sungai Xingu.

Banyak orang beranggapan bahwa penduduk Indian lokal membunuh mereka, karena kelompok Fawcett memasuki wilayah di mana terdapat beberapa suku yang berada di dekat mereka, seperti Suku Kalapalo (suku terakhir yang melihat mereka), Suku Arumá, Suku Suyá, dan Suku Xavante.

Tidak ada bukti yang mengonfirmasi bahwa ekspedisi Fawcett telah dibunuh oleh suku Indian karena memasuki wilayah mereka. Hal ini karena suku-suku Indian di wilayah Mato Grosso cukup ramah, kecuali suku-suku Indian di Timur. Namun, pada tahun 2005, kisah lain mengenai ekspedisi ini muncul.

Suku Kalapalo memiliki kisah lisan (mulut ke mulut) tentang kedatangan tiga penjelajah yang menyatakan bahwa ketiganya pergi ke timur, dan setelah lima hari, Suku Kalapalo melihat bahwa kelompok itu tidak lagi membuat api unggun.

Suku Kalapalo mengatakan bahwa suku yang sangat kejam kemungkinan besar membunuh mereka. Namun, kedua pria yang lebih muda terlihat lemah dan sakit saat terakhir kali terlihat, dan tidak ada bukti bahwa mereka dibunuh. Sangat masuk akal bahwa mereka mati karena sebab alami di hutan Brazil.

Pada tahun 1927, plat nama Fawcett ditemukan oleh suku Indian.
Pada Juni 1933, kompas theodolite milik Fawcet ditemukan di dekat Baciary Indian Mato Groso oleh kolonel Aniceto Botelho.

Namun, plat nama itu berasal dari ekspedisi Fawcett lima tahun sebelumnya dan kemungkinan besar diberikan sebagai hadiah kepada kepala suku Indian tersebut. Sementara kompas sendiri terbukti telah ditinggalkan sebelum Fawcett memasuki hutan pada perjalanan terakhirnya.

Dead Horse Camp

Dead Horse Camp, atau camp Fawcett, adalah salah satu kamp utama dalam perjalanan terakhirnya. Perkemahan ini adalah lokasi terakhir Fawcett yang diketahui.


Dari kamp ini Fawcett menulis kepada istrinya tentang kesulitan yang ia dan teman-temannya hadapi, tentang koordinatnya, keraguannya terhadap Raleigh Rimmel, dan rencana Fawcett dalam waktu dekat.

Dia mengakhiri pesan itu dengan, "Kamu tidak perlu takut akan segala kegagalan....".

Satu pertanyaan dari Dead Horse Camp menyangkut tentang perbedaan dalam koordinat yang diberikan Fawcett untuk kamp itu.

Dalam surat kepada istrinya, Fawcett menulis : "Di sini kami berada di Dead Horse Camp, 11°43′S 54°35′W / 11.717°S 54.583°W, tempat di mana kuda saya mati pada tahun 1920".

Namun, dalam sebuah laporan kepada North American Newspaper Alliance, Fawcett memberikan koordinatnya sebagai : 13°43′S 54°35′W / 13.717°S 54.583°W.

Perbedaan ini mungkin karena kesalahan ketik. Namun, Fawcett mungkin sengaja menyembunyikan lokasinya untuk mencegah orang lain menggunakan catatannya untuk menemukan kota yang hilang. Mungkin juga itu merupakan upaya untuk mencegah upaya penyelamatan terhadap ekspedisinya.

Fawcett telah menyatakan bahwa jika dia menghilang, tidak ada regu penyelamat yang harus dikirim karena bahayanya terlalu besar.

Dunia mencarinya dengan sia-sia selama 12 tahun

Kontroversi dan spekulasi setelah hilangnya ekspedisi Fawcett

Para peneliti telah menyalahkan hilangnya Fawcett mulai dari malaria, infeksi parasit, kelaparan, tenggelam, hingga diserang oleh jaguar.

*) Pendapat Henry Costin

Penjelajah Henry Costin telah menemani Fawcett pada lima ekspedisi sebelumnya.

Henry Costin menyatakan keraguannya bahwa Fawcett akan tewas di tangan suku Indian setempat, karena dia biasanya menikmati hubungan yang baik dengan mereka. Costin percaya bahwa Fawcett tewas karena kekurangan makanan atau karena kelelahan.

Costin adalah salah satu sahabat Fawcett yang paling terpercaya. Pada kenyataannya, Fawcett menggambarkan Costin sebagai salah satu dari "satu-satunya asisten yang bisa saya sebut sepenuhnya dapat diandalkan dan sepenuhnya dapat beradaptasi, dan saya tidak pernah menginginkan persahabatan yang lebih baik."

*) Rumor dan laporan yang tidak diverifikasi

Selama dekade-dekade berikutnya, berbagai kelompok melakukan beberapa ekspedisi penyelamatan yang tidak membuahkan hasil. Mereka hanya mendengar berbagai rumor yang tidak dapat diverifikasi.

Sementara sebuah kisah memperkirakan bahwa 100 orang tewas pada beberapa ekspedisi yang berusaha menemukan Fawcett, korban sebenarnya hanya satu orang, satu-satunya pria yang berkelana sendirian.

Salah satu ekspedisi awal dikomandoi oleh penjelajah Amerika George Miller Dyott. Pada tahun 1927, dia mengklaim telah menemukan bukti kematian Fawcett di tangan orang-orang Indian Aloique, tetapi kisahnya tidak meyakinkan.

George Miller Dyott dikirim oleh Royal Geographical Society pada tahun 1928 sebagai ekspedisi pertama untuk mencari Fawcett dan teman-temannya.

George Miller Dyott, seorang
penerbang dan penjelajah Amazon

Dari hutan, dia yakin bahwa kelompok ekspedisi itu telah tewas, tetapi tidak memiliki bukti kuat dan tidak dapat menemukan mayat apa pun.

Dari tahun 1930 hingga 1931, Aloha Wanderwell menggunakan seaplane (pesawat amfibi) untuk mencoba mendarat di Sungai Amazon di Mato Grosso untuk menemukan Fawcett. Setelah pendaratan darurat dan tinggal dengan suku Bororo selama 6 minggu, Aloha dan suaminya Walter terbang kembali ke Brazil, tanpa hasil.

Pada ekspedisi 1951, temuan tulang-tulang manusia yang ditemukan, kemudian diketahui tidak ada hubungannya dengan Fawcett atau teman-temannya.

*) Kisah Villas-Bôas

Penjelajah Denmark, Arne Falk-Rønne melakukan perjalanan ke Mato Grosso selama tahun 1960an. Dalam buku tahun 1991, dia menulis bahwa dia mengetahui nasib Fawcett dari Orlando Villas-Bôas, yang telah mendengarnya dari salah satu pembunuh Fawcett.

Diduga, ekspedisi Fawcett mengalami kecelakaan di sungai dan kehilangan sebagian besar hadiah yang mereka bawa untuk suku-suku Indian.

Melanjutkan perjalanan tanpa membawa hadiah adalah pelanggaran serius terhadap protokol; sejak anggota ekspedisi itu kurang sakit atau sakit parah pada saat itu, suku Kalapalo yang mereka temui memutuskan untuk membunuh mereka.

Tubuh Jack Fawcett dan Raleigh Rimell dilemparkan ke sungai, sementara Kolonel Fawcett, yang dianggap sebagai orang tua/pria tua, dibedakan, dan menerima penguburan yang layak.

Falk-Rønne mengunjungi suku Kalapalo dan melaporkan bahwa salah satu anggota suku mengonfirmasi kisah Villas-Bôas tentang bagaimana dan mengapa Fawcett dibunuh.

*) Tulang Fawcett

Pada tahun 1951, Orlando Villas-Bôas, aktivis penduduk asli, diduga menerima tulang kerangka Fawcett yang tersisa dan telah dianalisis secara ilmiah.

Orlando Villas Boas dan dua suku Kalapalo Indian dengan
tulang-tulang yang diduga milik Fawcett pada tahun 1952

Analisis tersebut mengonfirmasi bahwa tulang-tulang itu adalah milik Fawcett, tetapi anak Fawcett, Brian Fawcett (1906–1984) menolak untuk menerima hasil ini.

Villas-Bôas mengklaim bahwa Brian terlalu tertarik untuk menghasilkan uang dari buku tentang ayahnya yang menghilang di pedalaman hutan Brazil.

Analisis ilmiah berikutnya mengonfirmasi bahwa tulang-tulang itu bukan milik Fawcett.

Pada tahun 1965, tulang-tulang itu dilaporkan diletakkan di dalam sebuah kotak di flat salah satu saudara Villas-Bôas di São Paulo.

*) Dokumentasi Rusia.

Pada tahun 2003, film dokumenter Rusia, The Curse of the Incas' Gold / Expedition of Percy Fawcett to the Amazon, dirilis sebagai bagian dari serial televisi Mysteries of the Century.

Film ini menekankan pada ekspedisi Oleg Aliyev ke tempat perkiraan keberadaan terakhir Fawcett dan temuan Aliyev, anggapan dan dugaan tentang nasib Fawcett.

*) Komune (kelompok orang yang hidup bersama) di hutan.

Pada 21 Maret 2004, surat kabar Inggris, The Observer, melaporkan bahwa direktur televisi, Misha Williams, yang telah mempelajari surat-surat pribadi Fawcett, percaya bahwa Fawcett tidak berniat kembali ke Inggris tetapi lebih dimaksudkan untuk menemukan sebuah komune di hutan berdasarkan prinsip-prinsip teosofi (bahwa semua agama sama-sama benar dalam ajaran batin mereka) dan menyembah putranya, Jack Fawcett.


Misha Williams menjelaskan penelitiannya secara detail dalam AmaZonia (April, 2004).

*) Lost City of Z (Grann)

Pada 2005, staf penulis The New Yorker, David Grann, mengunjungi suku Kalapalo dan melaporkan bahwa mereka rupanya telah mempertahankan sejarah lisan tentang Fawcett, di antara orang Eropa pertama yang pernah dilihat oleh suku tersebut.

Kisah dari mulut ke mulut mengatakan bahwa Fawcett dan kelompoknya telah tinggal di desa mereka dan kemudian pergi, menuju ke timur.

Suku Kalapalo memperingatkan Fawcett dan rekan-rekannya bahwa jika mereka pergi ke sana, mereka akan dibunuh oleh suku yang suka berperang, yang disebut sebagai "orang-orang Indian ganas", yang menghuni wilayah itu, tetapi Fawcett bersikeras untuk pergi.

Kalapalo mengamati asap dari api unggun ekspedisi Fawcett setiap malam selama lima hari sebelum asap itu menghilang. Suku Kalapalo mengatakan bahwa mereka yakin orang Indian yang ganas telah membunuh kelompok Fawcett.


Artikel itu juga melaporkan bahwa peradaban monumental yang dikenal sebagai Kuhikugu mungkin benar-benar ada di dekat tempat Fawcett mencarinya, seperti yang ditemukan baru-baru ini oleh arkeolog Michael Heckenberger dan yang lainnya.

Temuan Grann dijelaskan secara panjang lebar dalam bukunya yang berjudul The Lost City of Z (2009).

*) Kepala menyusut yang diduga Kolonel Percy Fawcett


Karya Percy Fawcett :

Fawcett, Percy dan Brian Fawcett (1953), Exploration Fawcett.


Fawcett, Percy dan Brian Fawcett (1953), Lost Trails, Lost Cities.


Fawcett, Brian (1958), Ruins in the Sky.


Nasib Fawcett mungkin tidak pernah diketahui secara pasti, namun dalam beberapa tahun terakhir, bukti telah menunjukkan bahwa teorinya tentang kota canggih di hutan bukanlah fantasi semata.

Seperti dalam "The Lost City of Z", Grann menunjukkan bahwa banyak arkeolog sekarang yang percaya bahwa Amazon adalah rumah bagi puluhan permukiman ramai di abad-abad sebelum kedatangan orang Eropa.

Penggalian telah mengungkapkan reruntuhan dari kota taman dengan dinding pertahanan dari tanah, jaringan jalan yang kompleks dan ruang yang cukup untuk ditempati ribuan penduduk.

Beberapa situs ini terletak jauh di dalam Mato Grosso, wilayah di mana Percy Fawcett berharap untuk menemukan kota mitos "Z".

Grann mengatakan :

"Dia (Fawcett) mulai menjadi salah satu sensasi media pertama di dunia. Sebelum dan sesudah dia pergi dalam ekspedisinya, dia sangat terkenal. Orang-orang menyanyikan lagu tentang dia."

"Ketika dia menghilang, pers menyebutnya :' Misteri Eksplorasi Terbesar Abad ke-20'. Orang-orang benar-benar mengikuti ekspedisinya di setiap benua."

"Dan setelah menghilang, banyak orang yang pergi untuk mencoba menyelamatkannya dan melihat apakah mereka dapat menemuka kota itu sendiri. Secara harfiah ada ribuan sukarelawan."

"Apa yang dimulai sebagai legenda El Dorado, berubah menjadi legenda Kolonel Percy Fawcett."

"Namun tragisnya, banyak dari mereka yang pergi ke hutan tidak pernah kembali, dan tidak ada satu pun yang menemukan kota Emas. Akibatnya, legenda Fawcett dengan cepat memudar."


*) Reruntuhan dan peradaban Kuhikugu

Para peneliti percaya bahwa pemikiran Fawcett mungkin telah terpengaruh oleh informasi yang mungkin diperoleh dari masyarakat adat tentang situs arkeologi Kuhikugu, dekat hulu Sungai Xingu.

Kuhikugu ditemukan oleh Michael Heckenberger setelah Fawcett diduga tewas di hutan pada tahun 1925.

Situs ini berisi reruntuhan dari sekitar dua puluh kota dan desa di mana sebanyak 50.000 orang mungkin pernah hidup di sana.

Penemuan tanah geometris besar lainnya dalam interfluvial Amazonia selatan sejak saat itu telah diakui sebagai pendukung teori Fawcett.

Michael Heckenberger menemukan situs ini dengan suku lokal Kuikuro yang merupakan keturunan dari suku Kuhikugu. Menariknya, hampir semua yang ditulis oleh penjelajah Portugal dalam Manuscript 512 mirip dengan situs ini.

Manuscript 512 mengatakan bahwa ada gerbang besar ke sebuah kota yang dikelilingi oleh rumah-rumah besar dan ada sebuah kuil di dalamnya. Terdapat 28 kota dan desa di area seluas 7,7 km² yang dapat menampung 50.000 penduduk.


Penduduk hidup dengan bertani, membangun bendungan dan kolam ikan. Peradaban ini mulai ditinggalkan oleh penduduknya di awal abad ke-16 ketika penjelajah Eropa datang dan menetap di pemukiman mereka dengan wabah.

Hampir dua pertiga populasinya mati karena wabah ini. Kota ini kemudian ditutupi oleh hutan lebat Amazon.

Pada akhirnya, kota ini ditemukan kembali oleh penjelajah Portugal pada tahun 1743 dan dinamai kota "Z" oleh Percy Fawcett.

Sekarang, situs Kuhikugu adalah bagian dari 26,420 km² Taman Adat Xingu di Hutan Hujan Amazon, Brazil.

Presiden Brazil pada saat itu, Janio Quadros menandatangani peresmian Taman Nasional Xingu pada 14 April 1961.

Kisah Fawcett telah menjadi inspirasi bagi Indiana Jones dan “The Lost World” Sir Arthur Conan Doyle.

Pada tahun 2016, kisah Fawcet diadaptasi oleh sutradara James Gray menjadi sebuah film dengan judul "The Lost City of Z", yang dibintangi oleh Charlie Hunnam, Robert Pattinson, dan Sienna Miller.


Ekspedisi Fawcett dan rekan-rekannya yang menghilang tanpa jejak di pedalaman Amazon pada tahun 1925 tetap menjadi misteri yang belum terpecahkan hingga saat ini.

(Sumber : Percy Fawcett, Lost City of Z, The Enduring Mystery Behind Percy Fawcett’s Disappearance, Story of the Lost City Of Z and Kuhikugu Ruins, The Lost City of Z and the Mysterious Disappearance of Percy Fawcett)

1 komentar: