Selasa, 22 Mei 2018

Legenda Gajah Mina


Gajah Mina adalah makhluk cryptid laut yang biasa ditemukan di Kepulauan Indonesia.

Tubuh Gajah Mina adalah gabungan dari gajah dan ikan. Makhluk ini dikenal luas oleh pelaut Indonesia dan Malaysia.

Namanya "fish elephant" berarti ikan gajah, dan tidak dibingungkan dengan "elephant seal", yang berarti gajah laut.

Dalam budaya Hindu Bali, Gajah Mina adalah salah satu dari 7 binatang mitologi (Makara). Bentuk ikan berkepala gajah sering dicat atau diukir di Candi sebagai ornamen.

Ukiran kayu Gajah Mina dari Borneo

Karena banyak situs arkeologis candi memiliki ornamen Gajah Mina, sepertinya Gajah Mina sudah dikenal sejak zaman dahulu.

Deskripsi Gajah Mina berasal dari sesepuh desa pesisir. Para tetua mengatakan bahwa makhluk itu sama besarnya dengan ikan paus, memiliki belalai seperti gajah, memiliki bulu di tubuhnya dengan sepasang gading dan di beberapa kasus, memiliki telinga yang lebar.

Ilustrasi Gajah Mina

Jika Gajah Mina ditemukan mati di pantai, penduduk desa biasanya datang untuk mengambil bagian-bagian dari tubuhnya, seperti potongan bulu, taring atau tulangnya.

Gajah Mina dipercaya hidup di air yang dalam, sehingga penampakannya sangatlah jarang.

Kepala Museum Natuna Sri Serindit, Zaharudin, mengatakan bahwa panjang Gajah Mina dapat mencapai 20 meter. Disebut gajah karena memiliki gading dan belalai. Dia mengatakan bahwa Gajah Mina adalah binatang bergading, dengan kulit tidak seperti ikan pada umumnya.

Kulitnya memiliki bulu lembut, sehingga itu bukan ikan paus. Zaharudin juga mengatakan bahwa nelayan takut bertemu makhluk ini di laut. Banyak nelayan menghubungkan Gajah Mina dengan nasib buruk.

Pada 13 Januari 2005, sebuah bangkai berbulu putih ditemukan di pantai Dungun, Riau. Bangkai itu ditemukan oleh penduduk desa terdekat dan sebagian besar diambil oleh mereka.

Penduduk desa meyakini bangkai itu sebagai Gajah Mina yang sekarang menjadi langka.


Panjang bangkai itu 12,4 meter, panjang dasar ekor hingga ujung ekor 1,8 meter, panjang gading 2,4 meter, ketebalan kulit 10 cm, serta panjang dan lebar siripnya masing-masing adalah 78 dan 47 cm..

Pada 20 Juni 2010, seekor "gajah laut" dilihat oleh seorang nelayan bernama Amir. Dia sedang menyelam pada waktu itu untuk menangkap ikan, dan melihat makhluk terperangkap di jala miliknya.

Terlalu takut untuk mendekati makhluk besar itu, dia memilih untuk menghindari lokasi itu selama beberapa waktu. Tiga bulan kemudian dia datang kembali ke lokasi, dan makhluk itu sudah menjadi kerangka.

Pada awal Agustus 2013, nelayan Subi menemukan bangkai mengambang yang mereka yakini milik Gajah Mina. Nelayan mencoba menariknya ke daratan menggunakan 4 perahu. Sebelum mencapai daratan, gading di mana mereka mengikat tali, terlepas dari tubuhnya. Akibatnya mereka hanya mengambil gadingnya. Nelayan mengatakan bangkai itu sebesar kapal 250 GT, panjangnya sekitar 15 sampai 30 meter.

Seperti yang dilaporkan oleh AntaraKepri.com, di pulau Serasan, Natuna, penduduk desa bernama Sanjaya melihat sesuatu sepanjang 6 meter terdampar di pantai Sisi.

Awalnya dia pikir itu adalah paus, begitu dia semakin mendekat, dia melihat adanya gading panjang, belalai di wajahnya, telinga lebar, dan ekor seperti ikan paus. Banyak penduduk desa yang datang untuk melihat dan menyeretnya ke daratan, lalu menguburkannya agar tidak menyebabkan penyakit. Kejadian ini terjadi pada 14 Februari 2016.


Penjelasan yang masuk akal untuk Gajah Mina adalah bahwa mereka sebenarnya hanyalah bangkai ikan paus yang terdekomposisi.

Bangkai ikan paus yang terdekomposisi biasanya memiliki penampilan "bulu" putih, sementara belalai atau telinga mungkin berasal dari beberapa bagian yang akan hancur dari tubuh utama paus. Munculnya gading sebenarnya adalah tulang rahang bawah yang bisa terlihat ketika paus mengalami dekomposisi.

Bangkai paus yang terdampar di Pantai Hulung, Maluku

Gajah Mina bisa juga merupakan kasus kesalahan identifikasi dari gajah laut, meskipun tidak ada spesies gajah laut yang berada di perairan Indonesia dan Malaysia.

Penjelasan lain untuk Gajah Mina adalah sejenis Sirenia. Dugong adalah binatang umum di sekitar pantai Asia Tenggara.

Meskipun telah mendapat penjelasan, para tetua desa dan nelayan paruh baya yakin bahwa mereka telah melihat Gajah Mina di masa muda mereka. Laut dekat Kalimantan, memiliki tidak kurang dari 20 spesies paus yang bermigrasi di sekitar pulau. Nelayan mengetahui perbedaan antara ikan paus dan Gajah Mina yang berbulu.

Dalam bahasa Melayu, Gajah Mina dapat merujuk kepada anjing laut, sedangkan orang Indonesia menganggapnya sebagai makhluk-Paleo (seperti mammoth dan kucing bergigi pedang).

Orang Dayak di pedalaman Kalimantan menganggap Gajah Mina sebagai kuda nil asli Kalimantan. Penampakan kuda nil datang dari Barito dan sungai Rungan, Kalimantan Tengah.

Sebagai catatan, tidak ada kuda nil yang hidup di Borneo, sehingga kuda nil Kalimantan juga dapat dianggap sebagai makhluk cryptid.

(Sumber : cryptidz.wikia)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar