Senin, 23 April 2018

Teori Bumi Berongga (Hollow Earth)


Bumi Berongga (Hollow Earth) adalah konsep ilmu semi (pseudosains) yang mengusulkan bahwa planet Bumi sepenuhnya berongga atau mengandung ruang interoir yang besar.

Komunitas ilmiah telah menolak gagasan tersebut setidaknya sejak akhir abad ke-18.

Konsep Hollow Earth hadir berulang kali dalam cerita rakyat dan sebagai dasar pemikiran fiksi bawah tanah, dan subgenre fiksi petualangan Journey to the Center of the Earth, At the Earth's Core.

Hal ini juga ditampilkan dalam beberapa teori pseudosains dan teori konspirasi saat ini.


Di zaman kuno, konsep daratan bawah tanah di dalam Bumi muncul dalam mitologi, cerita rakyat dan legenda.

Gagasan tentang dunia bawah tanah nampaknya masih diperdebatkan, dan menjadi terkait dengan konsep tempat asal atau akhirat, seperti dunia bawah mitologi Yunani, Svartálfaheimr (rumah para peri-hitam) dari mitologi Nordik, Neraka Kristen, dan Sheol Yahudi (tempat kegelapan di mana semua orang mati pergi).

Gagasan tentang dunia bawah tanah juga disebutkan dalam kepercayaan Buddhisme Tibet. Menurut satu cerita, ada sebuah kota kuno bernama Shamballa yang terletak di dalam Bumi.

Menurut orang-orang Yunani kuno, ada gua-gua di bawah permukaan yang merupakan pintu masuk menuju dunia bawah, beberapa di antaranya adalah gua-gua di Tainaron di Lakonia, Troezen di Argolis, Ephya di Thesprotia, Herakleia di Pontos, dan di Ermioni.

Dalam legenda Thracian dan Dacian, dikatakan bahwa ada ruang bawah tanah yng ditempati oleh dewa kuno bernama Zalmoxis.

Dalam agama Mesopotamia, ada kisah tentang seorang lelaki yang, setelah melakukan perjalanan melalui kegelapan terowongan di gunung "Mashu", dia memasuki taman bawah tanah.

Dalam mitologi Celtic, ada sebuah legenda tentang gua bernama "Cruachan", yang dikenal juga sebagai "Ireland's gate to Hell" (gerbang Irlandia ke Neraka), sebuah gua mitos dan kuno yang menurut legenda, makhluk aneh akan muncul dan akan terlihat di permukaan Bumi.

Gua Cruachan

Ada juga kisah ksatria abad pertengahan dan orang kudus yang pergi berziarah ke gua yang terletak di Pulau Station, County Donegal, Irlandia, di mana mereka melakukan perjalanan di dalam Bumi menuju tempat api penyucian.

Situs gua di Pulau Station yang menurut berbagai mitos merupakan
pintu masuk ke tempat api penyucian di dalam Bumi.

Di County Down, Irlandia Utara, terdapat mitos tentang terowongan yang mengarah ke daratan bawah tanah Tuatha Dé Danann, sekelompok orang yang diyakini telah memperkenalkan Druidism ke Irlandia, dan kemudian kembali ke bawah tanah.

Tuatha Dé Danann yang digambarkan dalam
John Duncan "Riders of the Sidhe" (1911)

Dalam mitologi Hindu, dunia bawah tanah disebut sebagai Patala.

Kaki dewa Wisnu sebagai purusha menggambarkan bumi dan tujuh alam Patala

Dalam syair kepahlawanan Hindu Ramayana, telah digambarkan bagaimana Rama dan Lakshmana diambil oleh raja dunia bawah Ahiravan, saudara raja iblis Rahwana. Kemudian mereka diselamatkan oleh Hanoman.

Suku Angami Naga di India mengklaim bahwa leluhur mereka muncul pada zaman kuno dari daratan bawah tanah di dalam Bumi.

Taino dari Kuba percaya bahwa nenek moyang mereka yang muncul di zaman kuno berasal dari dua gua di gunung bawah tanah.

Penduduk asli Kepulauan Trobriand percaya bahwa leluhur mereka berasal dari daratan bawah tanah melalui lubang gua yang disebut "Obukula".

Cerita rakyat Meksiko juga menceritakan tentang gua di sebuah gunung, lima mil di selatan Ojinaga, dan bahwa Meksiko dirasuki oleh makhluk jahat yang datang dari dalam Bumi.

Di abad pertengahan, mitos Jerman kuno berpendapat bahwa beberapa gunung yang berada di antara Eisenach dan Gin Germany, memiliki pintu gerbang ke bumi bagian dalam.

Legenda Rusia mengatakan bahwa Samoyeds, suku Siberia kuno, melakukan perjalanan ke sebuah kota gua bawah tanah untuk hidup di dalam Bumi.

Penulis Itali, Dante, menggambarkan Bumi Berongga dalam karya terkenal berjudul Inferno abad ke-14, di mana jatuhnya Lucifer dari surga menyebabkan munculnya corong besar di bumi yang sebelumnya padat dan bulat, serta gunung yang sangat besar di seberangnya, "Purgatory".


Dalam mitologi asli Amerika, dikatakan bahwa leluhur orang Mandan di zaman kuno muncul dari daratan bawah tanah melalui gua di sisi utara Sungai Missouri.

Ada juga kisah tentang sebuah terowongan di San Carlos Apache Indian Reservation di Arizona dekat Cedar Creek, yang dikatakan mengarah ke dalam bumi, ke sebuah daratan yang dihuni oleh suku misterius.

Telah menjadi kepercayaan dari suku-suku Iroquois bahwa leluhur mereka muncul dari dunia bawah tanah di dalam Bumi.

Para tetua orang Hopi percaya bahwa Sipapu di Grand Canyon ada yang mengarah ke dunia bawah.

Sipapu (kata Hopi untuk lubang kecil) adalah lubang bundar kecil
di lantai reruntuhan Kiva

Suku Indian di Brazil, yang tinggal di sepanjang Sungai Parima, mengklaim bahwa leluhur mereka yang muncul di zaman kuno berasal dari daratan bawah tanah, dan bahwa leluhur mereka masih berada di dalam Bumi.

Nenek moyang Kekaisaran Inca diduga berasal dari gua bawah tanah yang terletak di timur Cuzco, Peru.

Di tahun 1692, Edmund Halley mengajukan gagasan tentang Bumi berongga, bahwa bumi terdiri dari cangkang kosong setebal 800 km, dua cangkang dalam yang mempunyai pusat yang sama dan inti terdalam.

Edmund Halley

Atmosfer memisahkan setiap cangkang ini, dan masing-masing cangkang memiliki kutub magnet tersendiri. Bola berputar pada kecepatan yang berbeda. Halley mengusulkan skema ini untuk menjelaskan anomali pembacaan kompas.


Dia membayangkan atmosfer di dalam sebagai tempat bercahaya (dan mungkin dihuni), dan berspekulasi bahwa gas yang keluar menyebabkan terciptanya Aurora Borealis.


Dalam Lands Beyond, De Camp dan Ley telah mengklaim bahwa Leonhard Euler juga mengusulkan ide bumi-berongga, menyingkirkan beberapa cangkang dan mengemukakan sebuah matahari bagian dalam (1.000 km) sebagai penyedia cahaya untuk peradaban maju bumi-dalam namun mereka tidak menyediakan referensi.

Memang, Euler tidak mengusulkan Bumi berongga, tapi ada pemikiran eksperimen yang sedikit terkait.


De Camp dan Ley juga mengklaim bahwa Sir John Leslie memperluas gagasan Euler, menyarankan dua matahari tengah bernama Pluto dan Proserpine (ini tidak terkait dengan planet Pluto, yang ditemukan dan diberi nama satu abad kemudian).


Leslie mengusulkan Bumi berongga dalam Elements of Natural Philosophy (pp. 449–53) pada tahun 1829, tapi tidak menyebutkan matahari bagian dalam.

Jules Verne menyinggung teori Pluto-Proserpine, yang ia kaitkan dengan "seorang kapten Inggris" dalam Journey to the Center of the Earth.

Pada tahun 1781, Le Clerc Milfort, memimpin sebuah perjalanan dengan ratusan Creek (penduduk asli Amerika Serikat) ke serangkaian gua di dekat Red River di atas tikungan Sungai Mississippi.

Menurut Milfort, leluhur asli Creek diyakini telah muncul ke permukaan Bumi pada zaman kuno dari gua-gua. Milfort juga mengklaim bahwa gua yang mereka lihat "dapat dengan mudah menampung 15.000 sampai 20.000 keluarga".

Pada tahun 1818, John Cleves Symmes, Jr. menyarankan bahwa Bumi terdiri dari cangkang berongga setebal sekitar 1.300 km, dengan lubang selebar 2.300 km yang masing-masing terbuka di wilayah kutub Utara dan kutub Selatan.

John Cleves Symmes, Jr

Symmes menjadi yang paling terkenal sebagai pendukung teori Bumi berongga.


Hamilton bahkan membuat monumen untuk Symmes karena ide-idenya.



Dia mengusulkan untuk membuat ekspedisi ke lubang kutub Utara, berkat upaya salah satu pengikutnya, James McBride.

Jeremiah Reynolds juga menyampaikan ceramah tentang "Bumi berongga" dan berdebat untuk sebuah ekspedisi. Reynolds memulai ekspedisi ke Antartika sendiri tapi gagal bergabung dengan Great U.S. Exploring Expedition pada tahun 1838–1842, meskipun usaha itu adalah hasil hasutannya.

Meski Symmes sendiri tidak pernah menulis buku tentang gagasannya, beberapa penulis menerbitkan karya yang membahas gagasannya.

McBride menulis Symmes' Theory of Concentric Spheres pada 1826. Reynolds memiliki artikel yang muncul sebagai buku kecil yang terpisah pada tahun 1827 berjudul Remarks of Symmes' Theory Which Appeared in the American Quarterly Review.

Penemuan seekor mammoth berbulu yang membeku dalam es di Siberia pada tahun 1846, digunakan oleh Marshall Gardner sebagai bukti dari sebuah bumi yang berongga.

Gardner menyarankan bahwa mammoth itu sangat terawat karena binatang itu baru saja mati, dan mengira bahwa mammoth dan makhluk punah lainnya berkeliaran dengan bebas di bagian dalam bumi.

Mammoth satu ini mengembara ke luar (dari bagian dalam bumi) melalui lubang di kutub Utara, kemudian membeku karena memasuki wilayah dingin dan terbawa ke Siberia oleh aliran es.

Pada tahun 1868, profesor W.F. Lyons menerbitkan The Hollow Globe, mengajukan hipotesis Bumi berongga seperti Symmes, tapi gagal menyebutkan Symmes sendiri.

Anak Symmes, Americus Symmess, kemudian menerbitkan The Symmes' Theory of Concentric Spheres pada tahun 1878 untuk membenarkan catatan tersebut.

NEQUA atau The Problem of the Ages, pertama kali menjadikannya cerita bersambung dalam surat kabar yang dicetak di Topeka, Kansas pada tahun 1900 dan dianggap sebagai novel bersifat utopis feminis awal, yang menyebutkan teori John Cleves Symmes sebagai penjelasan untuk Bumi berongga.

Pendukung teori Bumi berongga pada awal abad ke-20, William Reed, menulis Phantom of the Poles pada tahun 1906. Dia mendukung gagasan tentang Bumi berongga, namun tanpa cangkang dalam atau matahari dalam.

Penulis spiritualis, Walburga, Lady Paget dalam bukunya Colloquies with an unseen friend (1907) adalah penulis awal yang menyebutkan hipotesis Bumi berongga.

Dia mengklaim bahwa ada kota-kota di bawah gurun, yang merupakan tempat orang-orang Atlantis pindah. Dia mengatakan bahwa sebuah pintu masuk menuju kerajaan bawah tanah akan ditemukan pada abad ke-21.

William Fairfield Warren, dalam bukunya Paradise Found–The Cradle of the Human Race at the North Pole, memperkenalkan kepercayaannya bahwa umat manusia berasal dari sebuah benua di kutub Utara yang disebut Hyperborea.


Hal ini mempengaruhi beberapa pendukung Bumi berongga awal. Menurut Marshall Gardner, orang Eskimo dan orang Mongolia berasal dari bagian dalam Bumi melalui pintu masuk di kutub Utara.

Pada tahun 1913, Marshall Gardner menulis A Journey to the Earth's Interior dan menerbitkan edisi yang diperluas pada tahun 1920.


Dia meletakkan matahari dalam di Bumi dan membangun model kerja dari Bumi berongga yang ia patenkan (U.S. Patent 1,096,102). Gardner tidak menyebutkan Reed, tetapi mengkritik Symmes untuk ide-idenya.


Sekitar waktu yang bersamaan, Vladimir Obruchev menulis sebuah novel berjudul Plutonia, di mana Bumi berongga memiliki matahari dalam dan dihuni oleh spesies prasejarah.

Bagian dalam terhubung dengan permukaan oleh lubang di kutub Utara.


Pada tahun 1922, penjelajah, Ferdynand Ossendowski, menulis sebuah buku berjudul Beasts, Men and Gods. Ossendowski mengatakan bahwa dia diberitahu tentang kerajaan bawah tanah yang berada di dalam Bumi.

Oleh umat Buddha, itu dikenal sebagai Agartha (terkadang Agartta, Agharti, Agarta, atau Agarttha), sebuah kota bawah tanah legendaris yang memiliki peradaban sangat maju, dan konon terletak di dalam Bumi (inti Bumi).


Laksamana Angkatan Laut Amerika Serikat, Richard E. Byrd terbang melintasi kutub Utara (pada tahun 1926) dan kutub Selatan (pada tahun 1929). Selama penerbangan tersebut, dia tidak melihat adanya lubang yang mengarah ke Bumi bagian dalam.


Foto yang diambil oleh astronot di luar angkasa juga menunjukkan tidak adanya pintu masuk ke Bumi bagian dalam. Geologi modern menunjukkan bahwa bumi sebagian besar merupakan massa yang padat.

Dalam karya George Papashvily, Anything Can Happen (1940), mengklaim penemuan sebuah gua yang berisi kerangka manusia "dengan kepala sebesar keranjang basket" dan terowongan kuno yang mengarah ke pusat Bumi di pegunungan Kaukasus. Satu orang memasuki terowongan tersebut dan tidak pernah kembali.

Dalam buku The Cave of the Ancients, novelis Lobsang Rampa mengatakan tentang susunan ruang bawah tanah di bawah Himalaya (Tibet), yang penuh dengan mesin kuno, catatan dan harta karun.

Ahli cryptozoology, Michael Grumley, telah menghubungkan Bigfoot dan cryptid humanoid lainnya dengan susunan terowongan kuno yang berada di bawah tanah.

Menurut penulis, Peter Kolosimo, sebuah robot terlihat memasuki terowongan bawah tanah di bawah sebuah biara di Mongolia. Kolosimo juga mengklaim bahwa sebuah cahaya terlihat dari bawah tanah di Azerbaijan. Kolosimo dan penulis astronot kuno lainnya seperti Robert Charroux menghubungkan aktivitas ini dengan UFO.

Sebuah buku oleh Dr. Raymond Bernard yang muncul di tahun 1964, The Hollow Earth, mencontohkan gagasan tentang UFO yang datang dari dalam Bumi, dan menambahkan gagasan bahwa Cincin Nebula membuktikan adanya dunia yang berongga, serta spekulasi tentang nasib Atlantis dan asal piring terbang.


Majalah fiksi ilmiah Amazing Stories mempromosikan salah satu gagasan tersebut dari tahun 1945 sampai 1949 sebagai "the Shaver Mystery".

Editor majalah, Ray Palmer, menerbitkan serangkaian cerita oleh Richard Sharpe Shaver, mengklaim bahwa ras pra-sejarah unggul telah membangun sarang lebah dari gua di Bumi, dan bahwa keturunan mereka yang merosot, dikenal sebagai "Dero", masih tinggal di sana, menggunakan mesin fantastis yang ditinggalkan oleh ras kuno untuk menyiksa kita yang tinggal di permukaan.

Salah satu karakteristik dari siksaan ini, Shaver menggambarkannya sebagai "suara" yang konon berasal dari sumber yang tidak dapat dijelaskan. Ribuan pembaca menulis untuk menegaskan bahwa mereka juga telah mendengar suara yang sangat jahat dari dalam Bumi.

Penulis David Hatcher Childress, menulis Lost Continents and the Hollow Earth (1998), di mana ia mencetak ulang cerita Palmer dan membela gagasan Bumi berongga berdasarkan dugaan susunan terowongan di bawah Amerika Selatan dan Asia Tengah.

Pendukung teori Bumi berongga telah mengklaim sejumlah lokasi berbeda untuk menentukan pintu masuk yang mengarah ke dalam Bumi.

Selain kutub Utara dan kutub Selatan, pintu masuk di lokasi yang telah dikutip, meliputi Paris (Prancis), Staffordshire (Inggris), Montreal (Kanada), Hangchow (Cina), dan Hutan Hujan Amazon.

Beberapa penulis telah mengusulkan membangun megastruktur yang memiliki beberapa kesamaan dengan Bumi Berongga (Dyson sphere, dan Globus Cassus).

Bumi berongga cekung

Alih-alih mengatakan bahwa manusia hidup di permukaan luar planet berongga (hipotesis Bumi berongga cembung "Convex"), beberapa telah mengklaim bahwa manusia hidup di permukaan bagian dalam sebuah dunia berbentuk bola yang berongga, sehingga alam semesta kita sendiri terletak pada bagian dalam (interior) dunia.

Ini disebut hipotesis Bumi berongga cekung "concave" atau skycentrism.

Cyrus Teed, seorang dokter dari bagian utara New York, mengusulkan Bumi berongga cekung pada tahun 1869, menyebutnya "Cellular Cosmogony".


Berdasarkan gagasan ini, Teed mendirikan sebuah kelompok Koreshan Unity, yang disebut Koreshanity.

Pengikut Teed mengklaim telah melakukan percobaan untuk membuktikan cekungan kelengkungan bumi, melalui survei di garis pantai Floida menggunakan peralatan "rectilineator".


Beberapa penulis Jerman pada abad ke-20, termasuk Peter Bender, Johannes Lang, Karl Neupert, dan Fritz Braut, menerbitkan karya yang membela hipotesis Bumi berongga, atau Hohlweltlehre.

Bahkan telah dilaporkan, walaupun tampaknya tanpa dokumen sejarah, bahwa Adolf Hitler dipengaruhi oleh gagasan bumi berongga yang cekung.

Sebuah cerita mengatakan bahwa selama Perang Dunia II, Hitler mengirim sebuah ekspedisi menuju Pulau Baltik di Rugen.

Di sana, Dr. Heinz Fischer mengarahkan kamera teleskopis ke langit malam dalam upaya untuk memotret armada Inggris melintasi bagian dalam Bumi yang cekung. Dia tampaknya tidak berhasil dan armada Inggris tetap aman.

Penulis, Ernst Zundel, menulis sebuah buku berjudul UFOs - Nazi Secret Weapons ? mengklaim bahwa Hitler dan batalyon terakhirnya telah menaiki kapal selam di akhir perang, melarikan diri ke Argentina, dan kemudian mendirikan pangkalan untuk piring terbang di lubang yang mengarah ke bumi bagian dalam di kutub Selatan.


Zundel juga menyarankan bahwa Nazi berasal dari ras terpisah yang berasal dari bumi bagian dalam.

Ahli matematika Mesir, Mostafa Abdelkader menulis beberapa makalah ilmiah yang menyusun pemetaan rinci tentang model bumi cekung.

Dalam satu bab bukunya On the Wild Side (1992), Martin Gardner membahas model Bumi berongga yang diartikulasikan oleh Abdelkader.

Menurut Gardner, hipotesis ini mengemukakan bahwa sinar cahaya bergerak dalam jalur melingkar, dan melambat saat mendekat pusat gua bulat yang dipenuhi bintang.


Gardner mencatat bahwa "kebanyakan matematikawan percaya bahwa sebuah alam semesta luar-dalam, dengan hukum fisik yang disesuaikan dengan baik, secara empiris tidak terbantahkan."

Gardner menolak hipotesis Bumi berongga cekung atas dasar Occam's razor.

Hipotesis yang dikemukakan dengan pasti dari "Bumi Berongga cekung" perlu dibedakan dari eksperimen pemikiran yang mendefinisikan transformasi koordinat sehingga bagian dalam bumi menjadi "interior" dan bagian luarnya menjadi "eksterior".

Transformasi memerlukan perubahan yang sesuai dengan hukum fisik. Ini bukan hipotesis tapi sebuah ilustrasi pada fakta bahwa deskripsi dunia fisik dapat diungkapkan secara ekuivalen dengan lebih dari satu cara.

Satu orang percaya bahwa NASA telah menangkap foto lubang hitam di kutub Utara dan menyebutnya sebagai bukti pintu masuk menuju Bumi berongga.


Ternyata, foto itu sebenarnya merupakan gabungan dari beberapa gambar yang diambil selama 24 jam. Semua bagian yang dapat terlihat itu diterangi oleh siang hari, sedangkan lubang hitam itu adalah bagian lingkaran Arktik yang tidak diterangi siang hari selama musim dingin.

Salah satu buku paling terkenal mengenai Bumi berongga adalah Journey to the Center of the Earth karya Jules Verne.

Buku itu mengilustrasikan teori ketiga dari Bumi berongga yang lebih masuk akal daripada dua teori sebelumnya. Bahwa bagian dari permukaan mengarah ke gua bawah tanah di mana kehidupan tumbuh subur.

Dalam buku ini, tiga ilmuwan menuruni gunung berapa tidak aktif di Islandia dalam upaya untuk menemukan jalan ke pusat bumi. Mereka tidak sampai ke tujuan, tapi mereka menemukan laut bawah tanah yang dihuni oleh makhluk prasejarah termasuk plesiosaurus.


Sebuah eksplorasi telah menemukan bakteri pemakan batu yang hidup sejauh satu mil di bawah tanah, sedangkan di Romania, seluruh ekosistem, termasuk laba-laba, kalajengking, lintah dan kaki seribu, telah ditemukan di gua yang terputus dari permukaan sekitar 5,5 juta tahun yang lalu.

Bukti fisik yang bertentangan

Seismik

Gambaran struktur bumi melalui studi gelombang seismik, sangat berbeda dari hipotesis Bumi berongga.


Waktu yang diperlukan bagi gelombang seismik untuk melakukan perjalanan melalui dan di sekitar bumi secara langsung bertentangan dengan Bumi berongga.

Bukti ini menunjukkan bahwa bumi dipenuhi dengan batuan padat (mantel dan kerak), paduan besi nikel-cair (inti luar), dan besi nikel padat (inti dalam).

Gravitasi

Satu set argumen ilmiah yang melawan teori Bumi berongga atau planet berongga berasal dari gravitasi.

Benda-benda besar cenderung menggumpal secara gravitasi, menciptakan benda-benda bulat yang tidak berongga seperti bintang dan planet. Bola padat adalah cara terbaik untuk meminimalkan energi dan potensial gravitasi dari objek fisik, memiliki kekosongan tidak menguntungkan dalam pengertian energik.

Selain itu, materi biasa tidak cukup kuat untuk mendukung bentuk berongga dari ukuran planet melawan kekuatan gravitasi.

Cangkang berongga seukuran planet dengan ketebalan kerak bumi yang diketahui, tidak akan mampu mencapai keseimbangan hidrostatik (hydrostatic equilibrium) dengan massanya sendiri dan akan runtuh.

Kepadatan atau kerapatan

Berdasarkan ukuran bumi dan gaya gravitasi di permukaannya, kerapatan rata-rata planet bumi adalah 5.515 g/cm3, dan kerapatan khas batuan permukaan hanya setengahnya (sekitar 2.75 g/cm3).


Jika ada bagian bumi yang berlubang, kerapatan rata-rata akan jauh lebih rendah daripada batuan permukaan. Satu-satunya cara agar bumi memiliki gaya gravitasi adalah adanya material yang lebih padat untuk membuat bagian besar dari interior.

Logam campuran besi nikel di bawah kondisi yang diharapkan di bumi yang tidak berongga akan memiliki kerapatan berkisar antara 10 sampai 13 g/cm3, yang membawa kerapatan rata-rata bumi ke nilai yang diamati.

Pengamatan langsung

Lubang pengeboran tidak membuktikan secara langsung terhadap teori Bumi berongga.

Lubang terdalam yang pernah dibor sampai saat ini adalah Kola Superdeep Borehole, dengan kedalaman bor verikal sebenarnya lebih dari 12 km. Bagaimanapun, jarak ke pusat bumi yaitu hampir 6.400 km.

Lubang bor Kola Superdeep Borehole

Sumur minyak dengan kedalaman yang lebih panjang bukanlah sumur vertikal. Karena sumur ini melenceng ke horizontal. Kedalaman vertikal sebenarnya biasanya kurang dari 4.000 meter.

Selain teori Bumi berongga, ada juga teori tentang Bulan berongga dan Mars berongga.

(Sumber : wikipedia, unmuseum.org)

3 komentar: