Kamis, 15 Februari 2018

Legenda Unicorn


Unicorn adalah makhluk legendaris yang sejak zaman dahulu telah digambarkan sebagai makhluk yang memiliki satu tanduk spiral besar yang menonjol di dahinya.

Unicorn telah disebutkan oleh orang-orang Yunani kuno dalam kisah sejarah alam oleh berbagai penulis, termasuk Ctesias, Strabo, Pliny the Younger, dan Aelian.

Alkitab juga menggambarkan binatang re'em, yang dalam beberapa versi terjemahan berarti unicorn.

Dalam cerita rakyat Eropa, unicorn sering digambarkan sebagai kuda putih atau kambing dengan tanduk panjang dan kuku terbelah.


Pada abad pertengahan dan masa Renaisans, unicorn biasanya digambarkan sebagai makhluk hutan liar, simbol kemurnian dan rahmat, yang hanya bisa ditangkap oleh seorang perawan.


Di dalam ensiklopedi, tanduknya dikatakan memiliki kekuatan untuk mengubah air racun menjadi air yang dapat diminum (penetral racun) dan sebagai penyembuh penyakit.

Pada zaman abad pertengahan dan Renaisans, gading narwhal terkadang dijual sebagai tanduk unicorn.


Unicorn tidak ditemukan dalam mitologi Yunani, melainkan dalam catatan sejarah alam (natural history), karena penulis sejarah alam yakin akan kenyataan unicorn, yang tinggal di India, dunia yang jauh dan menakjubkan bagi mereka.

Deskripsi awal berasal dari Ctesias, yang dalam bukunya Indika ("On India") menggambarkan mereka sebagai keledai liar yang mampu berlari cepat, dengan tanduk sepanjang satu setengah hasta, serta berwarna putih, merah dan hitam.


Aristotle mengikuti Ctesias ketika menyebutkan dua binatang bertanduk satu, oryx (sejenis antelop), yang disebut "indian ass" (keledai India).


Strabo mengatakan bahwa di Kaukasus ada kuda bertanduk satu dengan kepala seperti rusa.

Pliny the Elder menyebutkan oryx dan seekor indian ox (mungkin seekor badak) sebagai makhluk bertanduk satu, dan juga "binatang ganas yang disebut monoceros, yang memiliki kepala rusa, kaki gajah, dan ekor babi hutan, sedangkan bagian tubuh lainnya seperti kuda."

"Binatang itu membuat suara rendah, dan memiliki satu tanduk hitam yang menonjol di tengah keningnya, sepanjang dua hasta."


Dalam On the Nature of Animals, Aelian, mengutip Ctesias, menambahkan bahwa India juga memiliki kuda bertanduk satu, dan mengatakan bahwa monoceros terkadang disebut cartazonos, yang mungkin merupakan bentuk karkadann Arab, yang berarti "badak".

Cosmas Indicopleutes, seorang pedagang Alexandria yang hidup di abad ke-6, melakukan perjalanan pelayaran ke India, dan kemudian menulis karya tentang Kosmografi.

Dia memberikan deskripsi unicorn berdasarkan empat tokoh (terbuat dari kuningan) di Istana Raja Etiopia.

Berdasarkan laporan, dia menyatakan bahwa :

"Tidak mungkin untuk membawa binatang buas ini hidup-hidup, dan bahwa kekuatannya semua terletak pada tanduknya. Ketika ia menemukan dirinya dikejar dan dalam bahaya tertangkap, ia melemparkan dirinya dari tebing curam, dan berubah begitu cepat ketika jatuh, bahwa ia menerima semua kejutan pada tanduk, dan lolos dengan aman, dan sehat."


Binatang bertanduk satu (yang mungkin hanya seekor banteng) ditemukan pada beberapa stempel logam, materai, cap atau cincin dari peradaban Lembah Indus. Sesuatu dengan tampilan seperti itu dianggap sebagai tanda peringkat sosial yang tinggi.

Kursi tahta Denmark terbuat dari "tanduk unicorn", yang hampir pasti berasal dari gading narwhal.


Bahan yang sama juga digunakan untuk cangkir acara seremonial karena tanduk unicorn dipercaya dapat menetralkan racun.

Berdasarkan pengetahuan abad pertengahan, Marco Polo menggambarkan unicorn sebagai :

"Hampir tidak lebih kecil daripada gajah. Mereka memiliki rambut seekor kerbau, dan kaki seperti gajah. Mereka memiliki satu tanduk hitam besar di tengah dahi mereka. Mereka memiliki kepala seperti babi hutan. Mereka menghabiskan waktu dengan berkubang dalam lumpur. Mereka sangat jelek (tidak enak) untuk dilihat. Mereka sama sekali tidak seperti gambaran yang telah diceritakan bahwa mereka membiarkan diri mereka ditangkap oleh perawan, namun (hal itu) bertentangan dengan gagasan kita."

Sudah jelas bahwa Marco Polo mendeskripsikan seekor badak.

Di Jerman, sejak abad ke-16, Einhorn ("satu-tanduk") telah menjadi gambaran dari berbagai spesies badak.

Tanduk itu sendiri dan zat yang dibuatnya disebut alicorn, dan dipercaya memiliki khasiat magis dan sebagai obat-obatan.

Pada 1638, dokter Denmark, Ole Worm memeriksa tanduk diduga alicorn yang ternyata merupakan gading milik narwhal.

Bubuk palsu alicorn yang terbuat dari gading narwhal atau tanduk dari berbagai hewan lain, telah terjual di Eropa untuk tujuan pengobatan sampai akhir 1741.

Alicorn dianggap bisa menyembuhkan berbagai penyakit, dan memiliki kemampuan untuk mendeteksi racun, sehingga banyak dokter akan membuat dan menjualnya.

Cangkir atau piala alicorn yang diberikan kepada raja sebagai hadiah, biasanya terbuat dari gading hewan atau gading anjing laut.

Di abad pertengahan, seluruh tanduk sangat berharga, dan seringkali tanduk-tanduk itu benar-benar berasal dari gading narwhal.

Dalam heraldry (ilmu lambang), seekor unicorn sering digambarkan sebagai kuda dengan kuku dan jenggot kambing, ekor seperti singa, dan tanduk spiral di keningnya.

Unicorn paling dikenal sebagai simbol Skotlandia.

Unicorn dipilih karena dianggap sebagai binatang yang membanggakan diri dan angkuh, yang lebih baik mati daripada harus ditangkap, sama seperti Skotlandia yang akan berjuang untuk tetap berdaulat dan tak terkalahkan.


Pencarian binatang nyata sebagai dasar mitos unicorn, berarti menerima gagasan penulis zaman dahulu, bahwa unicorn benar-benar ada di suatu tempat di ujung bumi yang telah diketahui.

Beberapa binatang tersebut di antaranya :

Unicorn Otto von Guericke

Di antara banyak temuan tulang prasejarah yang ditemukan di Gua Unicorn di Pegunungan Harz Jerman, beberapa dipilih dan direkonstruksi oleh Walikota Magdeburg, Otto von Guericke, sebagai unicorn pada tahun 1663.

Unicorn Otto von Guericke

Unicorn Guericke hanya memiliki dua kaki, dan dibangun dari fosil tulang badak wol dan tulang seekor mammoth, dengan tanduk seekor narwhal.


Kerangka tersebut diperiksa oleh Gottfried Leibniz, yang sebelumnya meragukan keberadaan unicorn.

Batuan atau tanah liat unicorn dari Peradaban Lembah Indus (bertanggal 2500 SM)

Objek pertama yang ditemukan dari Harappa dan Mohenjo-Daro (situs utama Peradaban Lembah Indus), adalah batu kecil yang memiliki ukiran rapi yang menggambarkan binatang, termasuk sosok seperti unicorn, dan ditandai dengan tulisan Indus yang masih menbingungkan para ilmuwan.


Sosok unicorn pada batu itu telah ditafsirkan sebagai representasi aurochs (sejenis sapi liar besar yang sebelumnya menghuni Eropa, Asia dan Afrika Utara, atau juga menggambarkan asal mula dari aurochs itu sendiri).

Telah disarankan bahwa karena binatang itu selalu ditampilkan dari satu sisi, sehingga hanya satu dari dua tanduknya saja yang dapat terlihat.

Aurochs (Bos primigenius)

Elasmotherium atau badak

Salah satu dugaan menyarankan bahwa unicorn didasarkan pada elasmotherium (spesies badak berbulu wol bertanduk satu yang telah punah).

Elasmotherium terlihat seperti kuda, namun memiliki satu tanduk besar di dahinya.

Elasmotherium

Bagaimanapun, menurut Nordisk familjebok (Nordic Familybook) dan penulis sains, Willy Ley, elasmotherium mungkin telah bertahan hidup cukup lama mengingat adanya ingatan orang-orang Eropa asli tentang legenda banteng hitam besar dengan satu tanduk di dahinya.

Untuk mendukung klaim ini, tercatat bahwa pelancong abad ke-13, Marco Polo, mengklaim telah melihat seekor unicorn di Jawa, Indonesia.

Namun, deskripsinya secara jelas membuat pembaca modern yakin bahwa ia benar-benar telah melihat seekor javan rhinoceros atau badak jawa.

Badak jawa (Rhinoceros sondaicus)

Penemuan terbaru nampaknya menunjukkan bahwa manusia dan elasmotherium Siberia berada di wilayah yang sama pada waktu yang bersamaan pula.

Tengkorak tidak lengkap dari seekor elasmotherium sibiricum ditemukan di Kazakhstan dan ditentukan umurnya di tahun 2015, berusia sekitar 30.000 tahun.

Tengkorak manusia modern ditemukan di wilayah yang sama sekitar 45.000 tahun yang lalu, ini berarti bahwa spesies manusia dan mamalia jenis ini (elasmotherium) mungkin pernah hidup berdampingan di Siberia Barat selama ribuan tahun.

Kambing bertanduk satu

Peneliti Neo-Pagan kuno, Timothy Zell dan istrinya Morning Glory, memproduksi unicorn buatan yang disebut "the Living Unicorn", mengubah bentuk "tunas tanduk" anak kambing sedemikian rupa sehingga tanduk mereka tumbuh bersama menjadi satu tanduk.

Unicorn kambing bernama Lancelot yang diciptakan oleh Morning Glory
dan Otter G'Zell pada tahun 1980an

Zell berteori bahwa proses ini mungkin telah digunakan di masa lalu untuk menciptakan keingintahuan, karena kambing tersebut dapat menggunakan tanduk panjang yang lurus ini secara efektif sebagai senjata atau sebagai alat.

Proses ini hanya mungkin dilakukan dengan hewan yang memiliki tanduk secara alami. Untuk suatu waktu, beberapa ekor unicorn ini bepergian dengan Ringling Brothers Circus.

Dalam kumpulan karya dan konsep seni rupa abad pertengahan, unicorn sering digambarkan sebagai binatang kecil dengan kuku dan jenggot, dan terkadang lebih menyerupai kambing daripada seekor kuda bertanduk.


Narwhal

Tanduk unicorn yang sering ditemukan di abad pertengahan dan Renaisans Eropa, sangat sering menjadi contoh dari gading spiral tunggal yang khas dari narwhal (Monodon monoceros).

Tanduk binatang itu dibawa ke selatan sebagai tanduk perdagangan yang sangat berharga, dan dijual sebagai tanduk dari unicorn yang legendaris.


Karena tanduk ini dianggap memiliki kekuatan sihir, bangsa Viking dan pedagang utara lainnya dapat menjualnya berkali-kali dengan emas mereka.


Oryx

Oryx adalah antelop dengan dua tanduk panjang dan tipis yang berada di kepalanya.

Beberapa telah menyarankan bahwa ketika orang-orang melihat mereka dari samping dan dari kejauhan, mereka terlihat seperti kuda bertanduk tunggal (meski arah tanduk tersebut akan terlihat mundur, tidak maju seperti pada tanduk unicorn).


Bisa dibayangkan jika wisatawan Arab mendapatkan kisah unicorn dari binatang ini.

Bagaimanapun, penulis klasik nampaknya bisa membedakan dengan jelas antara seekor oryx dengan unicorn.

Eland

Di Afrika Selatan, eland memiliki konotasi mistis dan spiritual, karena antelop besar ini dapat mempertahankan diri mereka terhadap singa dan mampu membunuhnya.

Lemak eland digunakan saat mencampur pigmen untuk piktogram (simbol bergambar untuk sebuah kata atau frase), dan digunakan dalam pengolahan banyak obat-obatan.


Ada sebuah tanduk yang diklaim milik unicorn di kastil ketua Clan Macleod di Skotlandia, yang kemudian teridentifikasikan sebagai tanduk eland.

Gangguan genetik hewan bertanduk

Sebuah kemungkinan baru untuk inspirasi unicorn datang pada tahun 2008 dengan ditemukannya rusa roe bertanduk tunggal di Itali.

Rusa bertanduk tunggal memang tidak biasa, namun penempatan tanduk yang berada tepat di tengah sangat tidak biasa, bahkan bisa dibilang sangat langka.

Rusa Roe yang diberi nama unicorn

Direktur ilmiah Rome's zoo, Fulvio Fraticelli, mengatakan :

"Umumnya, tanduk berada di satu sisi (kepala) daripada berada di tengah. Ini terlihat seperti kasus yang rumit."

Rusa dengan satu tanduk yang berada di satu sisi

Fulvio Fraticelli juga mengakui bahwa penempatan tanduk itu bisa jadi hasil dari beberapa jenis trauma yang terjadi di kehidupan rusa.

(Sumber : Wikipedia)

6 komentar:

  1. oh gitu toh. teknosmurf.blogspot.com

    BalasHapus
  2. Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
  3. Abang aku temukan kerangka raksasa.bagian tulang terkecil dan ringan yg bisa di bawa pulang seukuran bola kaki.lokasi di pesisir pulau terpencil indonesia.
    Ciri: bertanduk seperti narwhal, bertaring seperti kuda nil, tak berkaki,kerangka semakin kebelakang mengecil seperti berekor.
    Hewan raksasa apakah ya bang?? Aku keliling nyari informasi ciri2 ini gak ketemu

    BalasHapus