Sabtu, 17 Februari 2018

Legenda Orang Bati


Orang Bati adalah makhluk cryptid bersayap yang dikabarkan menghuni Pulau Seram, Indonesia.

Nama "Orang-Bati" sendiri jika diterjemahkan dari bahasa asli Maluku memiliki arti "manusia bersayap."

Menurut cerita rakyat lokal, Orang-Bati digambarkan seperti monyet atau makhluk mirip kelelawar yang menculik anak-anak dan membawanya untuk dimakan selama penyerbuan malam hari.


Kisah lain mengenai Orang-Bati lebih seperti pertemuan penduduk setempat dengan pterosaurus.

Pulau Seram dikatakan sebagai rumah bagi primata aneh bersayap, yang dikenal sebagai Orang-Bati.

Dikatakan bahwa penduduk Pulau Seram berhadapan dengan makhluk ini ketika makhluk tersebut mulai menyerang desa untuk menculik bayi dan anak-anak, dan membawa tangkapannya menuju rumahnya di Gunung Kairatu.

Misionaris, Tyson Hughes, pada awalnya skeptis terhadap "orang utan bersayap", namun menjadi percaya dengan keberadaan Orang-Bati, dan mengklaim bahwa dirinya benar-benar mengalami satu pertemuan dengan makhluk tersebut.


Pada tahun 1987, misionaris Inggris, Tyson Hughes, memulai kontrak selama delapan belas bulan untuk membantu suku-suku Maluku di Pulau Seram untuk mengembangkan peternakan yang efisien.

Tyson kemudian mendengar cerita tentang Orang-Bati Gunung Kairatu, meskipun dia tetap skeptis mengenai "orang utan bersayap" yang terkenal dengan sifat jahat mereka.

Itu sampai sekitar pertengahan masa kontraknya, ketika Hughes mengklaim telah menyaksikan salah satu makhluk tersebut.

Setelah pertemuan itu, Hughes menempa kepercayaan lebih dalam antara dirinya dan penduduk asli Maluku, yang membantunya untuk bisa menceritakan kisah mengerikan yang mereka alami tentang binatang tidak biasa ini, yang penduduk setempat klaim bahwa makhluk ini menghantui langit Pulau Seram sampai hari ini.

Selama abad ke-15, misionaris di Pulau Seram diberitahui tentang Orang-Bati dan bagaimana makhluk itu menyerang Desa Uraur di Maluku.

Orang-Bati jelas berhubungan dengan makhluk mirip monyet bersayap lainnya seperti Ahool, atau Batsquatch.

Ada beberapa peneliti yang berpendapat bahwa deskripsi fisik makhluk ini tidak seperti primata bersayap, namun lebih mirip dengan pterosaurus, seperti Kongamato dari Afrika.

Penduduk asli Pulau Seram, bagaimanapun, bersikeras bahwa langit malam mereka penuh dengan makhluk mirip monyet yang berseluncur, yang mereka gambarkan sebagai makhluk setinggi kira-kira 5 kaki (1,5 meter), memiliki sayap hitam yang kasar, berkulit merah, dengan ekor tipis yang panjang.


Suku Aborigin lebih jauh mengklaim bahwa binatang-binatang terbang ini mengeluarkan lengkingan memilukan panjang ketika sedang mencari mangsa atau sedang berkeliaran.

Deskripsi "sayap kasar" dan "kulit merah darah" mungkin menunjukkan makhluk mirip kelelawar raksasa seperti Olitiau dari Afrika Tengah.

Namun, beberapa peneliti bersikeras bahwa deskripsi binatang ini tampaknya lebih sesuai dengan sepupu mereka dari Papua Nugini, yaitu Ropen.

Fakta ini juga nampaknya bertepatan dengan habitat Orang-Bati, yang konon mirip dengan habitat Ropen, yaitu berada di saluran gua yang terjepit jauh ke sisi gunung berapi, Gunung Kairatu.


Dalam episode "Winged Assassin" Nat Geo Wild seri dokumenter Man V. Monster, presenter Richard Terry pergi ke Pulau Seram untuk memeriksa penduduk desa mengenai legenda Orang-Bati yang menghantui hutan mereka.

Penduduk lokal mengklaim bahwa Orang-Bati bisa menculik bayi manusia, dan orang yang bersentuhan dengan makhluk itu akan mati.

Makhluk itu ternyata adalah flying fox besar atau kalong besar (Pteropus vampyrus), spesies kelawar terbesar yang menghuni Kepulauan Indonesia.

Richard Terry dalam episode "Winged Assassin"

Meski tidak cukup besar untuk membawa bayi, flying fox adalah pembawa Henipavirus atau virus Nipah mematikan, yang berpotensi dapat membunuh manusia melalui kontak dengan air liur flying fox.

Hal tersebut mungkin menjelaskan tentang bagaimana manusia yang melakukan kontak dengan Orang-Bati akan mati.

Orang-Bati terkadang dianggap sebagai spesies kelelawar raksasa yang belum ditemukan, dengan wajah menyerupai monyet, atau mungkin makhluk persilangan antara setengah monyet setengah kelelawar berukuran besar.

Sebagaimana diketahui bahwa banyak kelelawar memiliki wajah berbentuk aneh, jadi teori Orang-Bati sebagai kelelawar raksasa berwajah monyet, nampaknya masuk akal.

(Sumber : Wikipedia, cryptidz.wikia)

3 komentar:

  1. mantap artikelnya, kunjungan dari softkini.blogspot.co.id

    BalasHapus
  2. kemarin nonton di tv juga.. jangan lupa jika berkunjung ke banyuwangi pakai travel ragiltransport.com ya...

    BalasHapus