Kamis, 25 Januari 2018

Legenda Steller's Sea Cow (sapi laut steller)


Steller's sea cow atau sapi laut steller (Hydrodamalis gigas) adalah mamalia sirenia besar yang telah punah dan sebelumnya dapat ditemukan di laut Bering.

Steller's sea cow dinamai setelah naturalis bernama Georg Wilhelm Steller menemukan spesies tersebut di tahun 1741 pada ekspedisi Vitus Bering di pulau Bering.

Georg Wilhelm Steller

Steller's sea cow dewasa dapat tumbuh hingga sepanjang 26-30 kaki (8 sampai 9 meter), jauh lebih besar daripada sirenia yang masih ada.

Berdasarkan ukuran tersebut, Steller's sea cow dikenal sebagai salah satu mamalia terbesar selama periode holosen, selain dari ikan paus.


Ukuran besarnya kemungkinan sebagai adaptasi terhadap lingkungan yang dingin dan untuk menghemat panas sehingga mereka tetap hangat walaupun berada di daerah beriklim dingin.

Tidak seperti sirenia lainnya, Steller's sea cow sudah pasti selalu mengapung di permukaan air, dengan kata lain makhluk itu tidak dapat benar-benar menenggelamkan tubuhnya secara sepenuhnya ke dalam air, sehingga sangat mudah sekali diburu oleh manusia.


Steller's sea cow memiliki kulit luar sangat tebal sekitar 1 inci, untuk mencegah cedera dari batuan dan es tajam dan memiliki lapisan lemak setebal 8-10 cm, sebagai adaptasi lain terhadap iklim dingin di laut Bering.

Pupolasi kecil Steller's sea cow hidup di perairan Arktik di sekitar pulau Bering dan di dekat pulau Medny. Namun, karena kedatangan manusia, mereka hidup di pantai Pasifik Utara.

Kulitnya berwarna hitam kecoklatan, sepanjang bagian belakangnya halus dan menjadi kasar pada sisi-sisinya, dengan semacam kawah atau lubang yang sepertinya diakibatkan oleh parasit.

Rambut pada tubuhnya jarang (atau tipis), tetapi di bagian dalam siripnya ditutupi oleh semacam bulu. Bagian depan tubuhnya yang kasar memiliki panjang 67 cm, dan ekornya bercabang dua.

Kepala Steller's sea cow cenderung berukuran kecil dan pendek, dibandingkan dengan tubuhnya yang sangat besar. Mereka juga tidak memiliki gigi, namun memiliki serangkaian bulu pendek yang kaku di bibir atasnya, dan dua lapisan keratin di dalam mulutnya untuk mengunyah.


Tidak diketahui apakah Steller's sea cow memiliki predator alami.

Mereka mungkin telah diburu oleh paus pembunuh dan ikan hiu, meskipun daya apungnya dapat menyulitkan paus pembunuh untuk menenggelamkannya, dan tempat di mana Steller's sea cow tinggal memiliki hutan karang berbatu, yang dapat menghalangi serangan ikan hiu, namun mereka dapat dengan mudah terlihat oleh pemburu manusia dikarenakan tubuhnya yang sangat besar.

Menurut Steller, Steller's sea cow dewasa menjaga yang lebih muda dari serangan predator.


Steller's sea cow adalah herbivora (seperti dugong dan manatee yang masih hidup hingga saat ini), dan menghabiskan sebagaian besar waktunya dalam sehari untuk makan, dan hanya mengangkat kepalanya setiap 4 sampai 5 menit untuk bernafas.

Kelp (rumput laut besar) adalah sumber makanan utama mereka, menjadikan mereka sebagai binatang pemakan alga.


Steller's sea cow akan kawin dan melahirkan anaknya di dalam air, sebagaimana mereka tidak pernah pergi ke daratan.

Steller menggambarkan bahwa Steller's sea cow sebagai makhluk dengan tingkat sosial yang tinggi. Mereka hidup dalam kelompok keluarga kecil dan membantu anggota lain yang terluka, dan mereka juga merupakan binatang bersifat monogami (setia kepada satu pasangan).

Steller's sea cow berusia muda akan berada di depan kawanan sebagai perlindungan terhadap predator.

Steller melaporkan bahwa ketika seekor betina ditangkap, sekelompok Steller's sea cow lainnya menyerang perahu pemburu dengan menyeruduk dan menggoyangkannya.

Kemudian, pasangan si betina itu mengikuti perahu menuju pantai, bahkan setelah si betina dalam kondisi mati.

Steller's sea cow adalah anggota genus Hydrodamalis, kelompok sirenia besar.


Mereka juga adalah anggota keluarga Dugongidae. Kerabat hidup terdekat mereka sekaligus anggota keluarga yang masih bertahan hidup hingga saat ini adalah dugong (Dugong dugon).


Sejarah penemuan

Sapi laut Steller ditemukan pada pertengahan abad ke-18 (1714) oleh Georg Wilhelm Steller dan dinamai sesuai namanya (Steller).

Steller meneliti kehidupan liar di pulau Bering ketika karam di pulau tersebut selama sekitar satu tahun.

Rekonstruksi Steller mengukur seekor sea cow di tahun 1742 (Stejneger's 1925)

Sapi laut Steller adalah herbivora besar yang memiliki penampilan mirip anjing laut, dengan ekor menyerupai ekor ikan paus.

"Binatang itu tidak pernah keluar menuju pantai, tapi selalu hidup di dalam air. Kulitnya hitam dan tebal, seperti kulit pohon dari pohon oak tua. Kepalanya kecil dibandingkan dengan tubuhnya, (binatang) itu tidak memiliki gigi, tetapi hanya memiliki dua tulang datar berwarna putih, satu di atas, yang lainnya di bawah."

Binatang di pulau itu termasuk populasi relik dari ikan duyung, berang-berang laut, singa laut steller, dan anjing laut (northern fur seal).


Observasi Steller mengenai perilaku Steller's sea cow di pulau tersebut di dokumentasikan dalam publikasi anumerta miliknya The Beast of the Sea atau De bestiis marinis, yang diterbitkan pada 1751 oleh Russian Academy of Sciences di Saint Petersburg.

Zoologist, Eberhard von Zimmermann secara resmi mendeskripsikan Steller's sea cow pada tahun 1780 sebagai Manati gigas.

Pada tahun 1794, biologis Anders Jahan Retzius menempatkan binatang itu ke dalam genus baru Hydrodamalis, dengan nama khusus stelleri, sebagai bentuk penghormatan kepada Steller.

Pada 1811, naturalis Johann Karl Wilhelm Illiger reklasifikasi Steller's sea cow ke dalam genus Rytina. Hingga akhirnya pada tahun 1895, Theodore Sherman Palmer menggunakan nama Hydrodamalis gigas untuk spesies ini.

The Pallas Picture : satu-satunya gambar yang masih bertahan dari
Steller's sea cow oleh Friedrich Plenisner dan mungkin satu-satunya yang
diambil berdasarkan spesimen(1840)

Evolusi dari genus Hydrodamalis ditandai dengan ukuran yang lebih besar, kehilangan gigi, dan ruas kaki (tulang jari) sebagai respon terhadap glasiasi kuarter (pembekuan yang terjadi pada masa kuarter dari masa 2,58 juta tahun yang lalu hingga saat ini).

Sapi laut (sea cow) diperkirakan telah punah karena glasiasi tersebut dan pendinginan Samudra. Banyak populasi yang mati, namun garis keturunannya mampu beradaptasi dengan suhu yang lebih dingin.

Dalam waktu 27 tahun setelah ditemukan oleh manusia, Steller's sea cow yang bertubuh besar, bergerak lambat dan mudah ditangkap itu terus diburu hingga punah.

Mereka dibunuh oleh para pelaut, pemburu anjing laut, dan pedagang bulu yang mengikuti rute Bering ke Alaska, memburu mereka untuk makanan dan kulitnya digunakan untuk membuat kapal.

Steller's sea cow juga diburu untuk lemaknya yang tidak hanya digunakan untuk makanan, tetapi juga sebagai lampu minyak, karena tidak mengeluarkan asap atau bau, dan dapat disimpan dalam waktu lama pada udara hangat.


Steller's sea cow terakhir kabarnya mati di salah satu pulau Bering pada tahun 1768.

Manusia merupakan salah satu akibat kepunahan sapi laut Steller.

Tulang pertama dari Steller's sea cow digali sekitar tahun 1840, lebih dari 70 tahun setelah dianggap telah punah, sedangkan kerangka pertama ditemukan pada tahun 1885 di bagian utara pulau Bering.

Spesimen tersebut dikirim ke Saint Petersburg pada 1857, dan kerangka hampir lengkap lainnya tiba di Moskow sekitar tahun 1860.


Walaupun telah dianggap punah sejak tahun 1768, segera setelah kepunahan tersebut, terdapat banyak penampakan yang diduga sebagai penampakan Steller's sea cow yang masih bertahan hidup.

Ahli zoologi, Bernard Heuvelmans adalah salah satu yang mengakui fakta bahwa Steller's sea cow mungkin belum benar-benar punah.

Ahli biologi kelautan, Bret Weinstein dan James Patton dari University of California telah mencatat bahwa terdapat laporan tidak jelas tentang Steller's sea cow yang datang dari sepanjang barat laut pantai Amerika utara, pantai timur laut Asia, Samudra Arktik dan Greenland.

Jika laporan semacam itu tidak diabaikan, maka Hydramalis gigas stelleri, atau subspesiesnya mungkin masih hidup sampai saat ini.

Menurut Lucien Turner, seorang etnologis dan naturalis Amerika, penduduk asli Pulau Attu melaporkan bahwa binatang itu bertahan hidup sampai tahun 1800an, dan terkadang masih diburu oleh penduduk setempat.


Pada abad ke-19, seorang naturalis Polandia yakin bahwa Steller's sea cow telah berhasil bertahan hidup setidaknya sampai tahun 1830.

Penduduk asli juga melaporkan bahwa binatang itu tercatat masih hidup di sana dan di kepulauan Aleut pada pertengahan abad ke-19.


Pada tahun 1910, Steller's sea cow diduga telah terdampar di pantai Cape Chaplin, pada ujung utara teluk Anadyr, Siberia.

Pada pertengahan abad tersebut, seorang pelempar tombak melaporkan secara teratur penampakan binatang tidak bersirip berukuran 32 kaki (9,7 meter) tidak jauh dari pulau Bering setiap tahun pada bulan Juli.

Pada tahun 1962, kru penangkap ikan paus Rusia mengamati sebuah kelompok yang tampak seperti sekelompok Steller's sea cow.

Pada tahun 1963, USSR's Academy of Sciences menerbitkan sebuah artikel yang mengumumkan kemungkinan penampakan binatang tersebut.

Pada tahun sebelumnya, kapal penangkap ikan paus Buran melaporkan sekelompok mamalia laut besar sedang memakan rumput laut di air dangkal Kamchatka, di teluk Anadyr.

Kru kapal tersebut melaporkan telah melihat enam dari binatang tersebut yang berukuran mulai dari 6 sampai 8 meter dengan belalai dan bibir terbelah.


Pada tahun 1976, nelayan Rusia berjalan dan menyentuh Steller's sea cow hidup di teluk Anapkinskaya pada musum panas, meskipun sebuah spekulasi mengatakan bahwa itu adalah gajah laut utara.

Pada tahun 1983, kerangka yang diduga milik Steller's sea cow ditemukan di pulau Soviet.

Pada musim panas tahun 2006, seorang nelayan mengklaim telah melihat manatee berukuran sangat besar di lepas pantai Washington.

"Terdapat beberapa penampakan dan penangkapan tidak biasa di sepanjang lepas pantai Washington musim panas ini, namun tidak ada yang lebih aneh dibandingkan dengan penampakan seekor manatee."

"Ketika memancing untuk ikan tuna pada arah sejajar menuju Big Dipper, sekitar 40 mil dari lepas pantai, saya menerima panggilan radio dari seorang nakhoda perahu lain. Sebagai rasa hormat terhadap sesama nelayan, nakhoda tersebut meminta untuk tetap anonim."

"Dia mengatakan, 'apakah kamu melihat itu? itu adalah manatee. itu lebih besar daripada seekor singa laut dan panjangnya sekitar 12 kaki (3,6 meter). Awalnya saya tidak tahu apa itu, tapi kami melaju lebih dekat ke arah itu dan saya dapat melihat langsung dengan mata saya."

"Saya kemudian tahu persis apa itu, (binatang) itu diam di permukaan air sekitar dua menit, tanpa rasa takut, dan lalu tergelincir (meluncur) menuju ke dalam air."

"Ketika saya dan saudara saya yang juga berada dalam perahu tiba di rumah, kami segera menyalakan komputer dan berhenti pada gambar seekor manatee, dan itu adalah mamalia sama yang telah kami lihat pada sore itu. Saya akan mengingat (kejadian) itu sampai hari saya mati bahwa itu adalah seekor manatee."

Pada tahun 2006, sebanyak 27 kerangka Steller's sea cow hampir lengkap dan 62 tengkorak lengkap berhasil ditemukan.

Kerangka Steller's sea cow di Smithsonian's National Museum of Natural
History di Washington, D.C

Kerangka Steller's sea cow di Museum of Natural History Finlandia

Beberapa penampakan Steller's sea cow tersebut mungkin terjadi karena kesalahan identifikasi dari mamalia laut Arktik seperti narwhal atau paus bertanduk (Monodon monoceros) dan gajah laut utara (Mirounga angustirostris).

(Sumber : Wikipedia, allcryptid.wikia)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar