Senin, 15 Januari 2018

Legenda Giant Squid (Cumi-cumi raksasa)


Giant squid (Architeuthis) adalah cumi-cumi dalam keluarga Architeuthidae yang tinggal di laut dalam.

Perkiraan terbaru menempatkan ukuran maksimum untuk jantan berukuran 10 meter dari sirip posterior ke dua ujung tentakel, sedangkan untuk betina berukuran 13 meter.

Panjang mantel cumi-cumi raksasa sekitar 2 meter (betina lebih panjang, sedangkan jantan lebih pendek dari betina).


Jumlah spesies cumi-cumi raksasa telah menjadi perdebatan, namun penelitian genetik terbaru menunjukkan bahwa cumi-cumi ini hanya memiliki satu spesies saja.

Cumi-cumi raksasa dapat tumbuh hingga berukuran sangat besar karena abyssal gigantism atau deep-sea gigantism (gigantisme laut dalam), sebuah keadaan di mana spesies invertebrata atau hewan laut dalam, menampilkan ukuran yang lebih besar daripada kerabat air dangkal mereka.

Hal tersebut melibatkan adaptasi terhadap sumber makanan langka, tekanan yang lebih besar, dan suhu yang lebih dingin di kedalaman air.


Seperti kebanyakan cumi-cumi pada umumnya, cumi-cumi raksasa memiliki mantel, delapan tangan, dan dua tentakel panjang (tentakel terpanjang dari sefalopoda manapun).


Cumi-cumi raksasa memiliki sistem saraf dan otak kompleks yang canggih, sehingga menarik minat banyak ilmuwan untuk menelitinya.

Cumi-cumi raksasa memiliki mata besar yang dapat mendeteksi cahaya lebih baik, termasuk cahaya bioluminesensi langka di perairan dalam.


Cumi-cumi raksasa adalah moluska terbesar kedua dan salah satu yang terbesar dari semua invertebrata yang masih ada, dan hanya bisa dilampaui oleh cumi-cumi kolosal yang memiliki mantel berukuran hampir dua kali lebih panjang.

Beberapa sefalopoda punah seperti Cretaceous vampyromorphid Tusoteuthis, the Cretaceous coleoid Yezoteuthis, dan the Ordovician nautiloid Cameroceras, mungkin telah tumbuh lebih besar lagi.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa cumi-cumi raksasa memakan ikan laut dalam dan spesies cumi-cumi lainnya.

Mereka diyakini sebagai pemburu soliter (secara menyendiri), yang menangkap mangsa dengan menggunakan kedua tentakel panjang, lalu mencengkeramnya korban dengan cincin pengisap bergerigi di ujungnya, kemudian membawa mangsa menuju paruhnya yang kuat, dan menghancurkannya dengan radula (lidah dengan gigi kecil) sebelum mencapai kerongkongan.

Tentakel cumi-cumi raksasa

Paruh cumi-cumi raksasa

Salah satu predator cumi-cumi raksasa adalah paus sperma, walaupun paus pilot juga terkadang memakan mereka.



Penelitian terbaru menemukan petunjuk bahwa cumi-cumi raksasa telah ditemukan sebagai kanibal.

Pada Oktober 2016, seekor cumi-cumi raksasa terdampar di Galicia, Spanyol.

Coordinators for the Study and Protection of Marine Species (CEPESMA) mengindikasikan bahwa cumi-cumi tersebut diserang oleh cumi-cumi raksasa lainnya, sehingga menyebabkan tubuhnya terluka parah (kehilangan bagian sirip, kerusakan mantel, dan kehilangan mata).


Cumi-cumi raksasa dapat ditemukan di semua lautan di dunia.

Mereka biasanya ditemukan di dekat benua dan pulau lereng dari Samudra Atlantik, terutama Newfoundland, Norwegia, kepulauan Inggris utara, Spanyol dan pulau-pulau samudra dari Azores dan Madeira, ke Atlantik Selatan sekitar Afrika Selatan, Samudra Pasifik sekitar Jepang, dan Pasifik barat daya sekitar Selandia Baru dan Australia.

Sejarah penemuan cumi-cumi raksasa

Aristoteles, yang hidup di abad ke-4 SM, menggambarkan cumi-cumi besar yang ia sebut sebagai teuthus, sedangkan cumi-cumi yang lebih kecil disebut teuthis.

Pliny the Elder, yang hidup pada abad pertama menggambarkan cumi-cumi raksasa di Natural History miliknya, dengan kepala "sebesar tong", lengan sepanjang 9,1 meter, dan bangkai seberat 320 kg.

Kisah cumi-cumi raksasa telah umum ditemukan dikalangan pelaut sejak zaman kuno, dan mungkin telah mempengaruhi terciptanya legenda Nordik tentang kraken, monster laut legendaris yang mampu menelan dan menenggelamkan kapal apapun.


Japetus Steenstrup, menyarankan bahwa cumi-cumi raksasa adalah spesies yang digambarkan sebagai sea monk (makhluk laut "ikan" yang terlihat seperti biarawan) kepada raja Denmark Christian III sekitar tahun 1550.

Sea Monk

Steenstrup menulis sejumlah makalah tentang cumi-cumi raksasa pada tahun 1850an, dan pertama kali menggunakan istilah "Architeuthis" pada makalah tahun 1857.

Lusca dari Karibia dan Scylla dari mitologi Yunani, mungkin juga berasal dari penampakan cumi-cumi raksasa.

Lusca

Scylla

Pada awalnya, banyak orang yang skeptis terhadap keberadaan cumi-cumi raksasa dan menganggapnya sebagai makhluk mitos, namun skeptisme terhadap cumi-cumi ini terhenti setelah beberapa bangkai dan tentakel raksasa ditemukan terdampar di pantai, menunjukkan bahwa cumi-cumi raksasa memang nyata.


Sepotong cumi-cumi raksasa diamankan oleh corvette Alection Prancis pada 1861.


Dari tahun 1870 sampai 1880, banyak cumi-cumi terdampar di tepi Newfoundland.

Misalnya spesimen yang terdampar di teluk Tickle Thimble, Newfoundland pada 2 November 1878, memiliki mantel berukuran 6,1 meter, satu tentakel sepanjang 10,7 meter, dan berat diperkirakan mencapai satu ton.

Cumi-cumi raksasa ditemukan terdampar di Newfoundland pada 1871

Pada 1873, seekor cumi-cumi menyerang seorang pendeta dan seorang anak laki-laki yang berada di perahu kecil di dekat pulau Bell, Newfoundland.


Banyak juga kasus terdampar lainnya yang terjadi di Selandia Baru pada akhir abad ke-19.

Cumi-cumi raksasa yang ditemukan di Newfoundland pada 1873

Potret cumi-cumi raksasa pada tahun 1887 oleh British Library

Cumi-cumi raksasa yang ditemukan di Norwegia sedang diukur oleh
Professors Erling Sivertsen dan Svein Haftorn pada tahun 1954

Pada 2004, cumi-cumi raksasa yang kemudian diberi nama "Archie", ditangkap di lepas pantai kepulauan Falkland oleh pukat ikan.

Panjangnya 8,62 meter dan dikirim ke Natural History Museum di London untuk dipelajari dan dipelihara.

Archie

Pada 1 Maret 2006, cumi-cumi tersebut dipamerkan di Darwin Centre of natural history museum.

Pada Desember 2005, Melbourne Aquarium Australia membayar A$100,000 untuk tubuh utuh dari cumi-cumi raksasa berukuran 7 meter yang berhasil ditangkap oleh nelayan di lepas pantai Selandia Baru, dan diawetkan dalam blok es raksasa, .


Sejarah cumi-cumi raksasa hidup dalam bentuk foto atau video.

Menjelang abad ke-21, cumi-cumi raksasa tetap menjadi satu dari sedikit megafauna yang belum pernah di foto dalam keadaan hidup, baik di alam liar atau di penangkaran.

Ahli biologi kelautan dan penulis, Richard Ellis menggambarkannya sebagai "gambar yang paling sulit dipahami dalam sejarah alam".

Pada 1993, sebuah gambar yang konon memperlihatkan seorang penyelam dengan cumi-cumi raksasa hidup (diidentifikasikan sebagai (Architeuthis dux) diterbitkan di buku European Seashells.

Foto tahun 1993

Bagaimanapun, binatang dalam foto tersebut adalah Onykia robusta yang sedang sakit atau sekarat, bukan seekor cumi-cumi raksasa.

Cuplikan pertama cumi-cumi raksasa yang tertangkap dalam film terjadi pada tahun 2001.

Rekaman itu diperlihatkan di Discovery Channel Chasing Giants: On the Trail of the Giant Squid.


Gambar pertama cumi-cumi raksasa dewasa hidup diambil pada 15 Januari 2002, di pantai Goshiki, Amino Cho, Kyoto Prefecture, Jepang.

Cumi-cumi sepanjang 4 meter dengan ukuran mantel 2 meter itu ditemukan di dekat permukaan air, lalu ditangkap dan diikat ke dermaga, di mana binatang itu mati pada malam harinya.


Spesimen tersebut diidentifikasi oleh Koutarou Tsuchiya dari Tokyo University of Fisheries, dan dipamerkan di National Science Museum of Japan.

Foto pertama cumi-cumi raksasa di habitat aslinya diambil pada 30 September 2004 oleh Tsunemi Kubodera (National Science Museum of Japan) dan Kyoichi Mori (Ogasawara Whale Watching Association).

Tim mereka telah bekerja selama hampir dua tahun untuk mencapai hal tersebut.

Mereka menggunakan kapal nelayan seberat lima ton dan hanya beranggotakan dua awak kapal saja.

Gambar tersebut diambil pada perjalanan ketiga mereka ke tempat perburuan paus sperma di selatan Tokyo, di mana mereka menjatuhkan umpan berupa cumi-cumi dan udang sedalam 900 meter, dengan sebuah kamera dan lampu yang terpasang pada tali umpan.

Setelah lebih dari 20 hari mencoba hal tersebut, seekor cumi-cumi raksasa berukuran 8 meter menyerang umpan, sehingga membuat tentakelnya tersangkut.




Kamera berhasil mengambil lebih dari 500 foto sebelum cumi-cumi itu berhasil membebaskan diri setelah tersangkut selama empat jam, di mana tentakel cumi-cumi sepanjang 5,5 meter itu tetap melekat pada umpan pancing.

Analisis DNA mengkonfirmasi bahwa binatang laut itu adalah cumi-cumi raksasa.

Pada 27 September 2005, Kubodera dan Mori merilis foto-foto itu ke seluruh dunia.

Rangkaian foto yang diambil di kedalaman 900 meter dari kepulauan Ogasawa Jepang, menunnjukkan bahwa cumi-cumi itu berada di jalur umpan dan menyelimutinya dalam "bola tentakel".

Para periset dapat menemukan lokasi umum cumi-cumi raksasa dengan mengikuti pergerakan paus sperma.

Menurut Kubodera, "kami tahu bahwa mereka (paus sperma) makan cumi-cumi, dan kami tahu kapan dan seberapa dalam mereka menyelam, jadi kami menggunakan (paus sperma) untuk membawa kami ke cumi-cumi."

Keduanya melaporkan pengamatan mereka ke dalam jurnal Proceedings of the Royal Society.

Pada November 2006, penjelajah Amerika dan penyelam, Scott Cassell memimpin sebuah ekspedisi ke teluk California dengan tujuan untuk merekam cumi-cumi raksasa di habitat aslinya.

Tim tersebut menggunakan humboldt squid (cumi-cumi jumbo) yang membawa kamera yang dirancang khusus ke siripnya.

Kamera itu lalu menangkap apa yang diklaim sebagai cumi-cumi raksasa dengan perkiraan panjang 12 meter.

Setahun kemudian, rekaman tersebut disiarkan pada program History Channel MonsterQuest: Giant Squid Found.

Namun, Cassell menjauhkan diri dari dokumenter itu, mengklaim bahwa di dalamnya berisi beberapa kesalahan faktual dan ilmiah.

Pada 4 Desember 2006, cumi-cumi raksasa dewasa tertangkap kamera di dekat kepulauan Ogasawara, oleh para periset dari National Science Museum of Japan yang dipimpin Tsunemi Kubodera.

Binatang itu adalah betina berukuran kecil sepanjang 3,5 meter dengan berat 50kg.

Umpan yang digunakan oleh periset pada awalnya menarik perhatian cumi-cumi berukuran sedang (55cm), yang kemudian langsung menarik juga menarik perhatian cumi-cumi raksasa.

Cumi-cumi itu mati ketika proses penarikan menuju kapal.


Pada Juli 2012, kru jaringan televisi NHK dan Discovery Channel menangkap apa yang mereka gambarkan sebagai "rekaman pertama cumi-cumi raksasa hidup di habitat asli".

Rekaman itu diperlihatkan di NHK Special pada 13 Januari 2013, lalu ditampilkan di Discovery Channel's show Monster Squid: The Giant Is Real pada 27 Januari 2013, dan pada BBC Two Giant Squid: Filming the Impossible – Natural World Special.

Cumi-cumi sepanjang 3 meter itu telah kehilangan tentakel pemberi makan, yang kemungkinan telah diserang oleh paus sperma.


Cumi-cumi raksasa itu difilmkan sekitar 23 menit oleh Tsunemi Kubodera sebelum akhirnya pergi.

Pada 24 Desember 2015, seekor cumi-cumi raksasa berukuran 3,7 meter muncul di teluk Toyama, Jepang di pelabuhan lokal.

Menurut pemilik toko penyelam lokal, cumi-cumi itu berenang normal saat dia berada di sampingnya, dan setelah beberapa jam merekamnya, binatang itu dipandu untuk kembali menuju laut terbuka.




Salah satu pertanyaan yang belum terjawabkan adalah seberapa besar cumi-cumi raksasa ini bisa tumbuh.

Spesimen terbesar yang diketahui memiliki panjang antara 30 sampai 40 kaki (9-12 meter), dengan berat lebih dari 100 pon (45 kg).

Perlu dicatat bahwa cumi-cumi raksasa (Architeuthis) bukanlah spesies yang sama dengan cumi-cumi kolosal (Mesonychoteuthis hamiltoni).

Cumi-cumi raksasa merupakan contoh legendaris tentang bagaimana binatang fantastis bisa berada di bumi.

(Sumber : Wikipedia)

1 komentar:

  1. cumi-cumi terkenal lezat, tidak bisa saya bayangkan jika sebesar itu disantap beramai-ramai :D

    BalasHapus