Minggu, 31 Desember 2017

Legenda Yeti


Yeti, dikenal juga sebagai "manusia salju yang keji", adalah makhluk legendaris yang menghuni wilayah Pegunungan Himalaya, Nepal, Tibet, Rusia, dan India.

Dalam mitologi Buddha, Yeti adalah makhluk tenang (damai), yang sangat pemalu, dan hidup di gua bersalju pada gletser di India.

Seorang seniman merekonstruksi seperti apa tampilan Yeti
berdasarkan laporan dan deskripsi saksi mata

Kata Yeti berasal dari gabungan kata Tibetan untuk "berbatu-batu", dan "beruang".

Beberapa nama atau sebutan Yeti lainnya adalah :

Michê, dari bahasa tibet yang berarti "man-bear".

Dzu-teh, diterjemahkan sebagai "ternak", arti penuhnya diterjemahkan menjadi "ternak beruang", mengacu kepada beruang coklat Himalaya.

Migö atau Mirgö, diterjemahkan sebagai "manusia liar".

Bun Manchi, dari bahasa Nepal untuk "jungle man/manusia hutan". Nama ini digunakan di luar komunitas Sherpa, di mana Yeti adalah nama yang umum.

Mirka, nama lain untuk "wild-man" (manusia liar).

Kang Admi, sebutan untuk "snow man" (manusia salju).

Nama Yeti dan Meh-Teh adalah nama yang umum bagi penduduk asli di wilayah itu, dan telah menjadi bagian dari sejarah dan mitologi mereka.

Orang-orang Nepal juga menyebutnya Bonmanche yang berarti "manusia liar" atau Kanchanjunga rachyyas yang berarti "Iblis Kanchanjunga."


Yeti Telah terlihat di sekitar Himalaya sejak 6 masehi, dan diketahui sebagai Bigfoot atau hominid berbulu tertua yang pernah dicatat dalam sejarah.

Yeti digambarkan sebagai makhluk menyerupai kera besar yang berjalan tegak setinggi 8 sampai 10,5 kaki (2,4 - 3,2 meter), memiliki bulu berwarna coklat, kemerahan, atau hitam kabur, dan berwarna putih.



Seruan atau sebutan Yeti sebagai "Abominable Snowman" (Manusia Salju yang keji) tercipta pada tahun 1921, tahun yang sama ketika Letnan Kolonel Charles Howard-Bury memimpin ekspedisi 1921 British Mount Everest reconnaissance expedition di Gunung Everest.

Berdiri dari kiri (S Wollaston, Charles Howard Bury, AM Heron dan Harold Raeburn)
Duduk dari kiri (Georges Mallory, EO Wheeler, Guy Bullock dan HT Morshead)


Dalam bukunya, Howard mencangkup sebuah kisah di mana dia menemukan jejak kaki di salju yang membentuk jalur ganda, yang dipercaya mungkin disebabkan oleh seekor serigala abu-abu berukuran besar.

Dia menambahkan bahwa pemandunya yang juga seorang Sherpa, mengatakan bahwa itu pasti jejak "The Wild Man of the Snows" (manusia liar dari salju), yang mereka beri nama "metoh-kangmi".

Metoh berarti "manusia beruang", dan Kangmi berarti "manusia salju".


Menurut H. Siiger, Sebelum Abad ke-19, Yeti adalah bagian dari kepercayaan pra-buddhis dari beberapa orang Himalaya. Dia diberitahu bahwa orang-orang Lepcha menyembah "makhluk gletser" sebagai Dewa Pemburu.

Dia juga melaporkan bahwa pengikut agama Bön percaya bahwa darah "mi rgod" atau "wild man" telah digunakan dalam upacara mistis tertentu.

Mereka menggambarkannya sebagai mahluk mirip kera yang membawa batu besar sebagai senjata, dan membuat suara swoosh yang bersiul.


Pada tahun 1832, Jurnal milik James Prinsep yang berjudul Journal of the Asiatic Society of Bengal, menerbitkan catatan B. H. Hodgson tentang pengalamannya di Nepal Utara.

Catatan tersebut menceritakan pemandu lokalnya yang telah melihat seekor makhluk bipedal bertubuh tinggi yang ditutupi rambut gelap panjang yang kelihatannya seperti melarikan diri karena ketakutan.

Hodgson menyimpulkan bahwa itu adalah orangutan.


Catatan awal tentang jejak kaki Yeti dilaporkan muncul di tahun 1899 pada jurnal milik Laurence Waddell berjudul Among the Himalayas. Waddell melaporkan deskripsi pemandunya tentang makhluk mirip kera besar yang meninggalkan jejak, yang Waddell pikir bahwa itu dibuat oleh seekor beruang.

Cerita tentang makhluk mirip kera mulai dikenal ketika sebuah jejak kaki berhasil ditemukan di antara salju maupun di sekitar lumpur, yang menunjukkan bahwa makhluk cryptid seperti itu memang aktif atau hidup di Nepal, Tibet, dan wilayah sekitarnya.

Foto pertama kalinya jejak Yeti di dokumentasikan



Frekuensi laporan itu meningkat pada awal abad ke-20. ketika orang-orang Barat mulai melaporkan melihat makhluk aneh, beserta jejak yang juga aneh di wilayah pegunungan.

Ilustrasi ketika pendaki gunung melihat Yeti

Pada tahun 1925, N. A. Tombazi, seorang fotografer dan anggota Royal Geographical Society, menulis bahwa ia melihat seekor makhluk di dekat gletset Zemu.

Dia mengamati makhluk yang berjarak sekitar 180 sampai 270 meter itu kurang lebih selama satu menit.

"Tidak diragukan lagi, sosok itu persis seperti manusia, berjalan tegak, dan terkadang berhenti untuk menarik beberapa rhododendron bushes (sejenis tanaman berkayu). Makhluk itu tampak gelap di antara Salju, dan sejauh yang bisa saya lihat, dia tidak mengenakan pakaian."



Sekitar dua jam kemudian, ketika Tombazi dan rekan-rekannya menuruni gunung, mereka melihat cetakan jejak makhluk itu, yang digambarkan "bentuknya serupa dengan manusia, tapi panjangnya 15 sampai 17 cm, dengan lebar 10cm. Cetakan tersebut tidak diragukan lagi berasal dari makhluk bipedal."

Jejak yang diduga milik Yeti di Himalaya yang ditemukan oleh
Frank S. Smythe pada 1936

Peter Byrne melaporkan bahwa ia menemukan jejak Yeti pada tahun 1948, di Utara Sikkim, India, di dekat gletser Zemu, saat sedang berlibur dari penugasan Angkatan Udara Kerajaan di India.

Peter Byrne bersama dengan biarawan di biara Pangboche sekitar tahun 1958/9


Ketertarikan orang Barat terhadap Yeti memuncak secara dramastis di tahun 1950an, ketika eric Shipton memotret sejumlah cetakan jejak kaki berukuran besar di salju, saat mencoba mendaki Gunung Everest pada tahun 1951.

Eric Shipton

Dugaan jejak kaki Yeti yang ditemukan oleh Dr. Michael Ward dan difoto
oleh Eric Shipton ini diambil di gletser Menlung pada Ekspedisi Everest
tahun 1951 bersama Edmund Hillary di Nepal.


Foto tersebut mendapat sorotan publik dan memicu perdebatan ketat mengenai makhluk apakah yang membuat jejak kaki seperti itu.

Beberapa berpendapat bahwa itu adalah bukti terbaik tentang keberadaan Yeti, sementara yang lainnya berpendapat bahwa cetakan itu berasal dari makhluk biasa yang terdistorsi oleh salju yang mencair.

Beberapa ekspedisi yang telah dilakukan untuk mencari keberadaan Yeti, hanya menemukan semacam jejak kaki, tulang belulang, dan sampel rambut, dari makhluk yang diduga sebagai Yeti.

Ekspedisi Yeti yang terkenal berasal dari Sir Edmund Hillary pada tahun 1953.

Sir Edmund Hillary adalah salah satu dari dua orang pertama yang berhasil mendaki gunung tertinggi di dunia yaitu Gunung Everest. Dia bersama dengan Sherpa Tenzing Norgay berhasil mencapai puncak pada tanggal 29 Mei 1953.

Edmund Hillary bersama Tenzing Norgay di Everest pada Mei 1953

Dalam dunia Cryptozoology, Sir Edmund Hillary dikenal sebagai sebagai orang pertama yang memburu Yeti.

Edmund Hillary memegang ilustrasi Yeti

Berawal dari keingintahuannya tentang identitas dari "Abominable Snowman", membuat Edmund Hillary merencanakan sebuah pencarian terhadap makhluk tersebut pada tahun 1950an.

Pada tahun 1952, Hillary bersama dengan George Lowe menemukan rambut di sebuah celah tinggi saat berada di pegunungan. Mereka kemudian menghubungkannya dengan sosok Yeti.

Pada tahun 1953, Hillary menemukan jejak Yeti di daerah Barun Khola.

Pada tahun 1954, dua anggota tim Hillary kembali menemukan jejak Yeti di Lembah Choyang.

Beberapa Sherpa terpercaya di Nepal yang mengetahui beberapa jenis "MAbominable Snowman" di pegunungan Asia, kemudian memberitahu Hillary tentang penampakan pertama dari Yeti berukuran manusia, yang pernah mereka alami.

Ketika Hillary bersama dengan wartawan Desmond Doig pergi ke Himalaya untuk mencari Yeti, mereka mencatat bahwa ada beberapa primata tidak diketahui yang berkeliaran di sana, yang belum ditemukan secara resmi.

Di antaranya ada yang disebut sebagai "Nyalmo".

Hillary dan Doig mempelajari tentang Nyalmo di utara tengah Nepal. Makhluk tersebut dikatakan sebagai raksasa berukuran 20 kaki (6 meter), seperti manusia, berbulu, dan biasa menggoyangkan pohon cemara besar sebagai kegiatan untuk menguji kekuatan mereka, sementara Nyalmo lainnya duduk di sekitar dan bertepuk tangan.

Selama tahun 1950an, Hillary adalah orang yang mendukung kemungkinan adanya keberadaan Yeti.

Pada tahun 1960, Hillary melakukan ekspedisi untuk mengumpulkan dan menganalisis bukti fisik Yeti. Dia mengirim sebuah kulit kepala Yeti dari Vihara Khumjung ke Barat untuk dilakukan pengujian.

Hasilnya menunjukkan bahwa kulit kepala itu berasal dari kulit Serow.

Serow

Pada akhir tahun 1960, Sir Edmund Hillary berangkat kembali dengan ekspedisi terkenalnya ke Nepal untuk mencari Yeti, yang disponsori oleh perusahaan Ensiklopedia World Book di Chicago.

Pada tahun 1954, Ekspedisi Snowman Daily Mail yang dipimpin oleh pendaki gunung bernama John Angelo Jackson, melakukan perjalanan pertama dari Everest menuju Kanchenjunga. Dia juga memotret lukisan simbolis Yeti di Tengboche gompa.

John Angelo Jackson

Jackson melacak dan memotret banyak jejak kaki di salju, yang sebagian besar bisa diidentifikasi. Namun, banyak juga jejak berukuran besar lainnya yang tidak dapat teridentifikasikan oleh mereka.

Pada tanggal 19 Maret 1954, Daily Mail mencetak sebuah artikel tentang sebuah tim ekspedisi yang mendapatkan spesimen rambut dari apa yang diduga berasal dari kulit kepala Yeti, yang ditemukan di biara Pangboche. Rambutnya berwarna hitam, terlihat berwarna coklat tua dalam cahaya redup, dan berwarna seperti merah (rubah) ketika berada di bawah sinar matahari.

Dr. Biswamoy Biswas memeriksa kulit kepala yang konon milik Yeti
selama Daily Mail Snowman Expedition pada 1954

Kulit kepala yang diduga milik Yeti di biara Khumjung

Rambut tersebut dianalisis oleh seorang ahli anatomi manusia, Profesor Frederic Wood Jones.

Selama penelitian, rambut tersebut dipotong menjadi beberapa bagian, lalu dianalisis secara mikroskopis, kemudian dibandingkan dengan rambut binatang yang telah diketahui seperti beruang dan orangutan.

Jones menyimpulkan bahwa rambut itu bukan berasal dari kulit kepala. Dia tidak dapat mengatakan secara persis dari manakah rambut yang diambil dari biara Pangboche ini berasal.

Jones yakin bahwa rambut tersebut bukan berasal dari beruang atau kera, namun rambut itu berasal dari pundak binatang berkuku kasar.

Dalam bukunya The Long Walk yang terbit pada tahun 1956, menceritakan Slawomir Rawicz dan beberapa orang lainnya sedang melintasi Pegunungan Himalaya pada musim dingin tahun 1940, saat jalan mereka diblokir selama berjam-jam oleh dua makhluk bipedal mirip kera.


Slawomir Rawicz

Pada tahun 1957, seorang warga Amerika, Tom Slick, mendanai beberapa misi untuk menyelidiki beberapa laporan tentang Yeti. Pada tahun 1959, kotoran yang diduga milik Yeti dikumpulkan oleh salah satu tim ekspedisi Slick. Hasil analisis feses tersebut menemukan parasit yang tidak bisa diklasifikasikan.


Cryptozoologist, Bernard Heuvelmans, menulis : "karena setiap hewan memiliki parasitnya sendiri, hal ini mengindikasikan bahwa hewan induk (feses tersebut) berasal dari binatang yang tidak diketahui."

Ang Dawa memeriksa "tempat tidur Yeti" yang
dia dan Norman Dyhrenfurth temukan pada tahun 1958

Pemeritah Amerika Serikat berpikir bahwa untuk menemukan Yeti, sepertinya harus dibuat semacam peraturan, dan mereka pun menciptakan tiga peraturan bagi tim Ekspedisi Amerika yang ingin mencarinya.

Peraturan tersebut di antaranya :

  1. Harus mendapatkan izin dari Nepal.
  2. Tidak membahayakan Yeti kecuali untuk membela diri.
  3. Membiarkan pemerintah Nepal menyetujui setiap berita yang melaporan tentang penemuan binatang tersebut.
Pada tahun 1959, saat berkunjung ke india, seorang aktor bernama James Stewart, dilaporkan menyelundupkan apa yang disebut sebagai Pangboche Hand (tulang tangan Yeti) di barang bawaanya, saat dia terbang dari India menuju London.

James Stewart

Foto Pangboche Hand yang diambil pada tahun 1958 oleh Peter Byrne

"Yeti Scalp" (kulit kepala Yeti) dan "Pangboche Hand" (tulang tangan Yeti)

Cerita mengenai Yeti lainnya terjadi dalam sebuah kejadian aneh di Pegunungan Ural, Rusia, pada tanggal 2 Februari 1959. Sebuah kelompok beranggotakan sembilan orang yang dipimpin oleh Igor Dyatlov, memutuskan untuk berkemah di sebuah bukit yang nantinya akan diberi nama "Dyatlov Pass".

Igor Dyatlov


Malam itu, para pendaki tiba-tiba diserang oleh sesuatu yang langsung membantai mereka.




Peristiwa itu kemudian dikenal sebagai "Insiden Dyatlov Pass".


Karena di lokasi kejadian terdapat beberapa jejak aneh, sebuah teori menduga bahwa kelompok tersebut telah diserang oleh Yeti.

Sampai hari ini, tidak diketahui apa yang sebenarnya terjadi pada pendaki tersebut, sehingga membuat mereka semua terbunuh secara misterius.

Foto yang ditemukan dalam gulungan film ini memperlihatkan kelompok Igor
yang tengah berangkat, sebelum kamp terakhir mereka pada 2 Februari 1959.

Sampai pada tahun 1960an, kepercayaan pada Yeti umumnya terjadi di Bhutan, dan pada tahun 1966, sebuah perangko dibuat untuk menghormati makhluk tersebut.


Pada tahun 1970, pendaki gunung dari Inggris, Don Whillans, mengaku telah menyaksikan makhluk itu ketika berada di Annapurna (salah satu gunung yang berada di pegunungan Himalaya).

Menurut Whillans, ketika memandu untuk mencari perkemahan, dia mendengar beberapa teriakan aneh. Menurut pemandu Sherpa-nya, itu adalah suara panggilan Yeti.

Don Whillans

Ketika malam hari, sebuah bentuk gelap bergerak di dekat kampnya. Keesokan harinya, dia mengamati beberapa jejak kaki mirip manusia di salju, dan pada sore harinya, dengan menggunakan teropong, dia melihat makhluk bipedal seperti kera selama 20 menit, yang tampak sedang mencari makanan, tidak jauh dari kamp miliknya.

Pada 1983, ahli konservasi Himalaya, Daniel C. Taylor, dan sejarawan alam, Robert L. Fleming Jr, memimpin sebuah ekspedisi ke Barun Valley (tempat penemuan jejak diduga Yeti oleh Cronin dan McNeely).

Daniel C. Taylor

Ekspedisi tersebut juga menemukan jejak kaki serupa milik Yeti, dan laporan dari penduduk desa tentang dua beruang, rukh balu (beruang pohon berukuran kecil seberat 70 kg) dan bhui balu (beruang tanah, agresif, seberat 180 kg).

Pada tahun 2004, editor jurnal Nature, Henry Gee, menyebut Yeti sebagai contoh dari sebuah legenda yang layak untuk dipelajari lebih lanjut.
"Penemuan bahwa Homo floresiensis bertahan hidup sampai baru-baru ini, dalam istilah geologi, membuat kisah dari makhluk mitos lain, seperti makhluk mirip manusia (Yeti), didasarkan pada kenyataan"
Pada awal Desember 2007, presenter TV Amerika, Josh Gates dan timnya dari Destination Truth, melaporkan penemuan serangkaian jejak kaki di wilayah Everest yang menyerupai deskripsi dari Yeti.

Josh Gates

Masing-masing jejaknya berukuran panjang 33 cm, dan mereka kemudian membuat cetakan dari jejak tersebut untuk dilakukan penelitian lebih lanjut.


Cetakan tersebut diperiksa oleh Jeffrey Meldrum dari Idaho State University, yang percaya bahwa bentuk cetakan itu terlalu akurat jika itu adalah cetakan palsu atau hasil buatan manusia.

Jari besar yang dipamerkan di London's Royal College of Surgeons ini
pada awalnya diduga milik Yeti, namun menurut Dr. Rob Jones (ilmuwan
senior di Zoological Society of Scotland) jari tersebut berasal dari manusia

Kemudian pada tahun 2009, Gates melakukan penyelidikan lain yang kali ini melibatkan penemuan sampel rambut. Seorang analisis forensik menyimpulkan bahwa rambut itu berisi urutan DNA yang tidak diketahui.

Pada tahun 2014, Discovery Channel membuat sebuah acara berjudul Yeti Rusia : The Killer Lives, yang menciptakan dugaan bahwa sembilan pejalan kaki (yang dipimpin Igor Dyatlov) tersebut memang dibunuh oleh sosok Yeti.

Film dokumenter tersebut memperlihatkan luka pejalan kaki yang telah meninggal, dan berpendapat bahwa itu disebabkan oleh sesuatu dengan kekuatan yang jauh lebih kuat daripada manusia.

Yeti Rusia : The Killer Lives

Pada 25 Juli 2008, BBC melaporkan bahwa rambut yang dikumpulkan oleh Dipu Marak di daerah terpencil Garo Hills, India Timur Laut, telah berhasil dianalisis oleh ahli primata, Anna Nekaris dan ahli mikroskop, Jon Wells, di Oxford Brookes University, Amerika Serikat.

Sampel rambut Dipu Marak

Pakar konservasi kera, Ian Redmond, mengatakan kepada BBC bahwa ada kesamaan antara pola kulit dari rambut ini dengan spesimen yang dikumpulkan oleh Edmund Hillary selama ekspedisi Himalaya pada tahun 1950an.

Hasil analisis tersebut mengungkapkan bahwa rambut itu berasal dari Himalayan Goral.

Himalayan Goral

Pada tahun 2010, sekelompok ilmuwan dan penjelajah Cina mengusulkan untuk memperbarui pencariannya di Distrik Kehutanan Shennongjia, provinsi Hubei, yang sebelumnya merupakan lokasi ekspedisi di tahun 1970 dan 1980an.

Pada sebuah konferensi di Rusia pada tahun 2011, para ilmuwan dan peminat yang ikut berpartisipasi, menyatakan bahwa mereka memiliki 95% bukti keberadaan Yeti.

Namun, klaim tersebut diperdebatkan oleh antropolog Amerika, dan ahli anatomi, Jeffrey Meldrum, yang menduga bahwa pernyataan tersebut hanyalah sebuah usaha yang dilakukan oleh pejabat setempat untuk menghidupkan publisitas Yeti.

Pada Desember 2011, Yeti dilaporkan tertangkap di Rusia. Kisah itu bermula ketika seorang pemburu melaporkan telah melihat seekor makhluk seperti beruang yang mencoba membunuh salah satu dombanya. Dia lalu melepas tembakan ke arahnya, sehingga membuat makhluk itu melarikan diri ke hutan.

Lalu tentara patroli di perbatasan berhasil menangkap seekor makhluk bipedal betina mirip seekor gorila, pemakan daging dan tumbuh-tumbuhan. Beberapa waktu kemudian, hal itu terungkap sebagai hoax, atau mungkin aksi publisitas untuk amal.

Lokasi penemuan "rambut Yeti" di gua Siberia

Beberapa dugaan Yeti sebagai binatang yang telah diketahui :

Kesalahan identifikasi satwa liar setempat telah disarankan sebagai penjelasan untuk beberapa penampakan Yeti, termasuk seekor monyet langur (Chu-Teh) yang tinggal di dataran rendah, beruang biru Tibet, dan beruang coklat Himalaya, atau beruang merah Himalaya (Dzu-Teh).

monyet langur (Chu-Teh)

Beruang biru Tibet (Tibetan blue bear)

Beruang coklat Himalaya, dikenal juga sebagai Beruang Merah Himalaya,
Beruang Isabelline atau Dzu-Teh

Sebuah ekspedisi ke Bhutan melaporkan bahwa sampel yang diperoleh dari Analisis DNA, Profesor Bryan Skykes, tidak dapat disesuaikan dengan hewan yang telah diketahui. Setelah analisis selesai dan ditunjukkan kepada media, hasilnya dengan jelas menunjukkan bahwa sampel itu berasal dari beruang coklat (Ursus Arctos) dan beruang hitam Asia (Ursus Thibetanus).

Beruang hitam Asia (Ursus Thibetanus)

Pada tahun 1986, pendaki gunung Tyrolean Selatan, Reinhold Messner, mengklaim bahwa dia pernah bertatap muka secara langsung dengan Yeti. Dia menulis sebuah buku berjudul My Quest for the Yeti.


Menurut Messner, Yeti sebenarnya adalah beruang coklat himalaya yang terancam punah, di mana beruang itu bisa berjalan tegak maupun merangkak.


Pada tahun 2003, peneliti Jepang dan pendaki gunung, Dr. Makoto Nebuka, menerbitkan hasil studi linguistik selama dua belas tahun, yang menyatakan bahwa kata Yeti adalah perubahan dari kata Meti, sebuah istilah logat daerah untuk seekor "beruang".

Nebuka mengklaim bahwa etnis Tibet takut, dan menyembah beruang sebagai makhluk gaib.

Klaim Nebuka tersebut langsung mendapat kritikan, dan dia dituduh telah melakukan kecerobohan yang berkenaan dengan ilmu bahasa.

Pada bulan Oktober 2013, seorang ahli genetika Inggris mengatakan bahwa dia mungkin telah memecahkan misteri Yeti, setelah mencocokkan DNA dari dua binatang yang dikatakan sebagai makhluk lengendaris Himalaya.
"Kami telah menemukan kecocokan genetik yang tepat antara dua sampel dari Himalaya dan beruang kutub kuno."
Dua sampel itu diambil dari Kashmir (Ladakh) sekitar 40 tahun yang lalu, dan di Bhutan sekitar satu dekade yang lalu.

Bryan Sykes mengatakan bahwa sampel DNA dari Himalaya 100% cocok dengan sampel dari tulang rahang beruang kutub kuno yang ditemukan di Svalbard, Norwegia.


Dr. Grover Krantz kemudian berpendapat bahwa Yeti adalah makhluk yang berjalan tegak, sedangkan beruang tidak. Yeti juga tampaknya memiliki jempol berlawanan yang memungkinkan dia untuk memegang dan melempar batu, sedangkan tidak ada seekor beruang yang bisa melakukan hal tersebut.

Sementara itu, spekulasi lainnya mengatakan bahwa makhluk yang dilaporkan sebagai Yeti, bisa jadi adalah kera raksasa Gigantophitecus.

Namun, Yeti pada umumnya digambarkan sebagai bipedal, sedangkan kebanyakan ilmuan percaya bahwa Gigantophitecus berjalan dengan tangan dan kakinya (seperti gorila). Kecuali jika kera raksasa tersebut bisa berevolusi secara khusus menjadi bipedal dan berjalan tegak.

Gigantophitecus

Catatan saksi mata menggambarkan Yeti memiliki wajah yang datar, mirip seperti kera, dan tidak sesuai dengan beruang mana pun yang pernah ada. Secara keseluruhan, Gigantophitecus atau beberapa kera besar lainnya, sepertinya merupakan penjelasan yang lebih masuk akal untuk identitas asli dari sosok Yeti.

Namun, pada akhir November lalu, beredar sebuah kabar yang menyatakan bahwa ilmuwan telah berhasil memecahkan misteri dari makhluk legendaris Himalaya, Yeti.

Tim ilmuwan tersebut dipimpin oleh Charlotte Lindqvist, seorang ilmuwan di University at Buffalo (University of Buffalo).

Charlotte Lindqvist menggunakan pengurutan DNA Mitokondria untuk menguji 24 sampel "Yeti", termasuk sampel tulang, gigi, kulit, feses dan sampel rambut.

Berdasarkan teknik tersebut, mereka menemukan bahwa 23 sampel "Yeti" itu berasal dari beruang, sedangkan satu sampel berupa gigi diketahui berasal dari seekor anjing.

"Dengan jelas, sebagian besar legenda Yeti ada hubungannya dengan beruang."

"Saya bukan ahli dalam legenda Yeti, saya bukan seorang antropolog, tetapi sebagai seseorang yang bekerja dengan genetika (mempelajari genetika), saya pikir ini adalah jenis pekerjaan yang bisa menceritakan sebuah cerita yang menarik."

Tulang paha yang ditemukan di gua di Tibet ini pada awalnya diduga
milik Yeti, namun sekarang diketahui bahwa itu milik seekor beruang

"Kami tidak bermaksud untuk memecahkan mitos ini. Kami berpikir terbuka, dan kami belajar sesuatu."

"Penemuan kami sangat menyarankan bahwa dasar biologis legenda Yeti dapat ditemukan pada beruang lokal, dan penelitian kami menunjukkan bahwa ilmu genetika harus bisa mengungkapkan misteri serupa lainnya," kata Charlotte Lindqvist.

Analisis tersebut mengungkapkan bahwa sampel mereka berasal dari beruang coklat Himalaya (Himalayan brown bear) dan beruang hitam Asia (Ursus Thibetanus).

Menurut ilmuwan yang menerbitkan laporan mereka di Proceedings of the Royal Society Journal B, mengatakan : "Setiap sub-spesies ini menghuni tempat berbeda di atap dunia (dataran tinggi Tibet), dan semuanya mungkin telah di salahartikan pada satu waktu atau waktu lainnya sebagai manusia liar dari salju."

Penelitian ini juga telah mendorong untuk dilakukannya analisis DNA serupa terhadap makhluk legendaris lain, terutama makhluk serupa Yeti yang berada di Amerika Utara, yaitu Bigfoot.

(Sumber : Wikipedia, cryptidz.wikia)

1 komentar: