Jumat, 29 Desember 2017

Legenda Northern White Rhinoceros


Northern white rhinoceros (badak putih utara), atau northern square-lipped rhinoceros (Ceratotherium simum cottoni), adalah salah satu dari dua subspesies badak putih yang ada di Afrika (spesies lainnya adalah badak putih selatan).

Mereka adalah pemakan rumput di padang rumput yang sebelumnya dapat ditemukan di beberapa negara di Timur dan Afrika Tengah, dan selatan Sahara.


Badak ini sempat dianggap sebagai makhluk cryptid, sebelum berhasil ditemukan pada tahun 1900.


Pada pemburu gelap membuat populasi badak ini berkurang dari 500 hingga menjadi 15 ekor pada tahun 1970an dan 1980an. Dari awal tahun 1990an sampai pertengahan 2003, populasinya bertambah lebih dari 32 ekor. Sejak pertengahan 2003, perburuan menjadi semakin intensif dan berhasil mengurangi populasinya di alam liar.


Sekarang, spesies badak ini sangat langka, dan menurut IUCN pada tahun 2011, hewan ini dianggap berada dalam status "terancam punah" (mungkin sudah punah di alam liar).

Seekor badak putih utara di Dvůr Králové Zoo

Tiga badak putih utara di San Diego Zoo

Pada Agustus 2005, African Parks Foundation dan Africa Rhino Specialist Group (ARSG), hanya menemukan 4 hewan, seekor badak jantan tunggal, dan kelompok badak yang terdiri dari satu jantan dewasa, dan dua betina dewasa.

Menurut World Wide Fund for Nature, mereka diketahui sebagai badak putih utara liar terakhir yang ada di dunia.

Pada Juni 2008, dilaporkan bahwa spesies ini mungkin telah punah di alam liar, semenjak tidak adanya penampakan lain (selain empat hewan yang telah ditemukan pada tahun sebelumnya).

Pada 28 November 2009, dua pilot helikopter Rusia melaporkan telah melihat badak putih utara di Selatan Sudan. Ketiga hewan itu telah diasumsikan sebagai subspesies, sebagaimana badak lainnya tidak pernah terlihat hidup di kawasan tersebut dalam waktu yang lama.

Pada Desember 2009, Sudan dipindahkan ke Ol Pejeta Conservancy sebagai "kesempatan terakhir untuk bertahan hidup" dalam program pengembangbiakan, bersama dengan tiga badak putih utara lainnya.

Upaya pengembangbiakan dengan Sudan di konservasi tidak membuahkan hasil.

Mereka tiba di konservasi pada 20 Desember 2009, bersama dengan badak putih utara lainnya dari Dvur Králové Zoo.

Badak-badak itu hidup di tempat khusus boma (kandang ternak yang digunakan di banyak wilayah di Afrika Tengah dan Selatan), memudahkan mereka untuk menyesuaikan diri dengan iklim dan lingkungan baru mereka.

Semua tanduk badak tersebut digergaji, sebagai upaya agar mereka tidak diburu oleh para pemburu yang mengincarnya.

Pada tempat tanduk mereka, sebuah pemancar radio telah dipasang untuk memungkinkan memantau tempat mereka berada.

Sejak tahun 2010, Sudan telah dipindahkan menuju kandang semiwild (setengah alam liar) yang jauh lebih besar (2.8 km persegi). Di sana Sudan bisa berkeliaran bersama dengan hewan lainnya, termasuk beberapa badak putih utara betina.


Pada Agustus 2011, tidak ada lagi laporan penampakan badak putih utara yang berhasil dilaporkan, dan populasi mereka di alam liar kembali dinyatakan telah punah.

Saat Suni mati pada tahun 2014, Sudan hidup bersama dengan Najin dan Fatu.

Suni adalah badak jantan yang lahir di Dvur Králové Zoo pada 1980, dan mati karena penyakit (mungkin karena umur yang sudah tua) di Ol Pejeta Conservancy pada 2014.

Suni

Badak jantan terakhir kedua di dunia adalah Angalifu, yang hidup di San Diego Zoo dengan Nola sampai dia mati pada 14 Desember 2014.

Nola

Angalifu yang sudah melewati usia pengembangbiakan, menyisakan Sudan sebagai satu-satunya badak putih utara jantan yang subur di dunia, bahkan ketika Angalifu masih hidup sekalipun.

Angalifu

Pada awal 2015, semua populasi badak putih utara di penangkaran hanya terdiri dari dua hewan saja yang dipertahankan di dua lembaga zoologi, yaitu di San Diego Zoo Safari Park (Amerika Serikat) dan Dvur Králové Zoo (Republik Ceko).

Namun, keduanya mati pada tahun yang sama, dan tidak ada lagi kebun binatang di dunia yang memiliki badak putih utara.

Pada Februari 2015, OI Pejeta meluncurkan GoFundMe, kampanye untuk mengumpulkan dana bagi para penjaga badak tersebut.

Pada Mei 2015, aktris Bollywood, Nargis Fakhri tiba di Kenya untuk membantu meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap spesies badak hampir punah di Oi Pejeta. Dia mengunjungi Sudan dan dua badak betina lainnya yang diketahui sebagai tiga dari empat badak putih terakhir yang ada di dunia.

Nargis Fakhri bersama Sudan

Kunjungan itu kemudian diikuti oleh bintang film Khaled Abol Naga, yang juga datang untuk mengunjungi Sudan.

Khaled Abol Naga bersama Sudan

Keduanya berbagi pengalaman mereka di media sosial dan mendorong orang-orang untuk menyumbangkan bantuan dan dukungan terhadap badak putih utara, sebagai harapan terakhir untuk menyelamatkan subspesies tersebut.

Pada 2016, dilaporkan bahwa para ilmuwan telah mencoba berbagai alternatif pengembangbiakan seperti inseminasi buatan, Fertilisasi in vitro (bayi tabung) dan pemindahan embrio, untuk mengembangkan embrio badak putih utara dan menanamkannya pada badak putih selatan di San Diego Zoo

Pada tahun 2017, hanya terdapat tiga badak dari subspesies ini yang tersisa di dunia. Semuanya milik Dvur Králové Zoo di Republik Ceko, namun mereka hidup di Ol Pejeta Conservancy di Kenya.

Ketiga badak yang tersisa itu adalah :

Sudan, jantan berusia 44 tahun, yang ditangkap di alam liar Sudan ketika berusia 3 tahun pada 1975. Dia adalah ayah dari Nabire dan Najin.

Sudan

Najin, seekor betina yang lahir di penangkaran pada tahun 1989. Ibunya adalah Nasima (lahir di Uganda pada 1965, mati pada 1992, ketika berumur 27) dan ayahnya adalah Sudan.

Najin

Fatu, betina lain yang lahir di penangkaran pada tahun 2000. Ibunya adalah Najin dan ayahnya adalah Saut (ditangkap di alam liar Sudan pada 1975 dan mati pada Agustus 2006, ketika berumur 33).

Fatu

Badak putih utara bernama Sudan dikenal sebagai badak jantan terakhir dari subspesiesnya di dunia, dan termasuk satu dari tiga badak putih utara yang masih hidup hingga saat ini.

Sudan

Badak putih utara yang masih tersisa dijaga selama 24 jam penuh di wilayah konservasi untuk menjaga mereka dari pemburu gelap, sebagaimana telah menjadi masalah utama bagi hewan badak.


Perlindungan tersebut meliputi pemancar yang tertanam di tanduk, menara penjaga, pagar pembatas, drone, anjing penjaga dan penjaga bersenjata terlatih yang melindungi mereka sepanjang waktu.


Pada 2017, Ol Pejeta Conservancy bekerja sama dengan Tinder meluncurkan kampanye penggalangan dana dalam rangka menyelamatkan subspesiesnya.

Mereka menciptakan akun Tinder untuk Sudan dan pengguna aplikasi dapat menyumbangkan donasi mereka, sebagai bantuan terhadap upaya pengembangan metode pengembangbiakan subspesies ini.


Zacharia Mutai, seorang penjaga Sudan yang menghabiskan 12 jam sehari menjaganya, mengatakan : "Sudan adalah badak yang paling indah dan juga teman baik saya."

Zacharia Mutai bersama Sudan

"Kami benar-benar merawatnya, seperti orang tua. Tapi saya menjadi sangat khawatir. Sudan adalah badak tua, dia bisa (saja) mati besok."

Menurut George Paul, ketiga badak itu secara psikologi dalam kondisi sehat, namun faktor usialah yang menjadi masalahnya. Sudan berusia 42 tahun, Najin berusia 25 tahun, dan Fatu berusia 15 tahun.

"Saat ini (Sudan) sudah berusia tua dan mungkin tidak bisa kawin secara alami dan berpasangan dengan betina. Sebagai tambahan, Sudan memiliki jumlah sperma yang rendah. Sedangkan Najin bisa hamil, tetapi kaki belakangnya sangat lemah untuk mendukung selama proses kawin dengan sang jantan."

"Badak putih utara tidak bisa dipasangkan dengan badak hitam, tetapi ada kemungkinan bahwa badak itu bisa berpasangan dengan badak putih selatan."

Badak putih selatan

Badak putih selatan tidak terancam punah, dan secara genetis mereka adalah subspesies yang berbeda dengan badak putih utara.

"Meski keturunannya tidak akan 100% sebagai badak putih utara, itu akan lebih baik daripada tidak ada sama sekali," Ujar Paul, wakil dokter hewan di konservasi tersebut.

(Sumber : Wikipedia)

1 komentar: