Sabtu, 30 Desember 2017

Legenda Komodo


Komodo (Varanus komodoensis) adalah kadal terbesar di dunia yang hidup di pulau Komodo, Rinca, Flores, Gili Motang, dan Gili Dasami di Nusa Tenggara.

Penduduk asli di pulau Komodo menjuluki hewan ini dengan nama ora, buaya darat (land crocodile), atau biawak raksasa (giant monitor).

Komodo dikenal sebagai kadal terbesar di dunia yang dapat tumbuh dengan panjang maksimum hingga 3 meter dan berat sekitar 70kg.


Penelitian terbaru menduga bahwa ukuran besar komodo merupakan perwakilan dari populasi relik dari kadal varanid berukuran besar yang dulu pernah hidup di seberang Indonesia dan Australia, bersamaan dengan megafauna lainnya yang telah punah setelah zaman pleistosen.

Fosil yang menyerupai komodo berusia sekitar 3,8 juta tahun yang lalu telah ditemukan di Australia dengan ukuran tubuh tetap sama dengan komodo yang berada di Flores.


Di alam liar, komodo dewasa biasanya memiliki berat sekitar 70kg, sedangkan di penangkaran beratnya bisa melebihi itu.


Menurut Guinness World Records, berat rata-rata komodo jantan dewasa adalah 79 sampai 91 kg dan panjangnya 2,59 meter.

Sementara untuk betina, beratnya antara 68 sampai 73 kg, dan panjangnya 2,29 meter.

Spesimen liar terbesar yang pernah tercatat yaitu berukuran panjang 3,13 meter dengan berat mencapai 166 kg.

Komodo memiliki panjang ekor yang sama panjang dengan ukuran tubuhnya, dan memiliki sekitar 60 buah gigi bergerigi tajam sepanjang sekitar 2.5 cm.

Air liur komodo sering kali bercampur dengan sedikit darah karena giginya hampir seluruhnya dilapisi jaringan gingiva (gusi). Kondisi ini menciptakan lingkungan pertumbuhan yang ideal untuk bakteri mematikan yang hidup di mulut mereka.

Komodo memiliki lidah panjang berwarna kuning dan bercabang. Komodo jantan lebih besar daripada komodo betina, dengan warna kulit dari abu-abu gelap sampai merah batu bata, sementara komodo betina lebih berwarna hijau buah zaitun, dan memiliki potongan kecil kuning pada tenggorokannya.


Komodo dapat melihat hingga sejauh 300 meter, namun penglihatannya tidak begitu baik di malam hari.

Komodo menggunakan lidahnya untuk mendeteksi rasa dan mencium stimuli (rangsangan). Seperti reptil lainnya, komodo memanfaatkan organ Jacobson yang berfungsi sebagai organ pembantu dalam sistem penciuman, dan kemampuan tersebut dapat digunakan untuk membantu navigasi dalam kondisi gelap.

Dengan bantuan angin dan kebiasaannya menelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri ketika berjalan, komodo dapat mendeteksi keberadaan daging bangkai sejauh 4—9.5 kilometer.


Sisik-sisik komodo, beberapa di antaranya diperkuat dengan tulang, dan memiliki sensor yang terhubung dengan saraf yang memfasilitasi rangsang sentuhan.

Komodo pernah dianggap tuli ketika penelitian mendapatkan bahwa bisikan, suara yang meningkat dan teriakan ternyata tidak mengakibatkan agitasi (gangguan) pada komodo liar. Hal ini terbantah ketika karyawan Kebun Binatang London ZSL, Joan Proctor melatih biawak untuk keluar makan dengan menggunakan suaranya, bahkan ketika ia tidak terlihat oleh si biawak.

Komodo berhabitat di padang rumput kering terbuka, sabana, dan hutan tropis pada ketinggian rendah. Mereka aktif pada siang hari, walaupun terkadang aktif juga di malam hari.


Komodo adalah binatang penyendiri yang akan berkumpul bersama hanya pada saat makan dan berkembang biak.

Reptil besar ini dapat berlari cepat hingga 20 kilometer per jam pada jarak yang pendek, dikenal sebagai perenang sangat baik yang mampu menyelam sedalam 4.5 meter, serta pandai memanjat pohon menggunakan cakar mereka yang kuat


Komodo adalah hewan karnivora. Walaupun mereka kebanyakan memakan daging bangkai, sebuah penelitian menunjukkan bahwa mereka juga berburu mangsa hidup dengan cara mengendap-endap, diikuti dengan serangan tiba-tiba terhadap korbannya.


Selama periode musim kawin, komodo jantan akan bertarung untuk mempertahankan betina dan teritorinya dengan cara bergulat dengan komodo jantan lainnya dengan posisi berdiri yang bertumpu pada kaki belakang mereka.


Untuk tempat berlindung, komodo menggali lubang selebar 1 sampai 3 meter dengan menggunakan kaki depan dan cakarnya yang kuat. Komodo umumnya berburu pada siang hingga sore hari, namun tetap akan berteduh pada hari yang sangat panas.


Dengan bertambahnya umur, komodo lebih menggunakan cakarnya sebagai senjata ketika berburu mangsanya.


Pada akhir 2005, peneliti dari Universitas Melbourne, Australia, menyimpulkan bahwa biawak Perentie (Varanus giganteus) dan biawak-biawak lainnya, serta kadal-kadal dari suku Agamidae, kemungkinan memiliki semacam bisa.

Selama ini diketahui bahwa luka akibat gigitan hewan-hewan ini sangat rawan infeksi karena adanya bakteri hidup di mulut mereka. Akan tetapi, para peneliti mengatakan bahwa efek langsung yang muncul pada luka-luka akibat gigitan itu disebabkan oleh masuknya bisa berkekuatan menengah.


Para peneliti telah mengamati luka-luka di tangan manusia akibat gigitan biawak Varanus varius, Varanus scalaris serta komodo, dan semuanya memperlihatkan reaksi yang serupa, yaitu bengkak secara cepat dalam beberapa menit, gangguan lokal dalam pembekuan darah, rasa sakit mencekam hingga ke siku, dengan beberapa gejala yang bertahan hingga beberapa jam kemudian.

Sebuah kelenjar yang berisi bisa yang amat beracun telah berhasil diambil dari mulut seekor komodo di Kebun Binatang Singapura, dan meyakinkan para peneliti akan kandungan bisa yang dimiliki komodo.

Di samping mengandung bisa, air liur komodo juga memiliki aneka bakteri mematikan di dalamnya, lebih dari 28 bakteri Gram-negatif dan 29 Gram-positif telah diisolasi dari air liur ini.

Bakteri-bakteri tersebut menyebabkan septikemia (kondisi di mana seseorang mengalami keracunan darah akibat bakteri dalam jumlah besar yang masuk ke dalam aliran darah) korbannya.

Jika gigitan komodo tidak langsung membunuh mangsa, dan mangsa itu dapat melarikan diri, umumnya mangsa ini akan mati dalam waktu satu minggu akibat dari infeksi.

Bakteri yang paling mematikan di air liur komodo agaknya adalah bakteri Pasteurella multocida (diketahui melalui percobaan dengan tikus laboratorium).

Karena komodo nampaknya kebal terhadap mikrobanya sendiri, banyak penelitian dilakukan untuk mencari molekul antibakteri dengan harapan dapat digunakan untuk pengobatan manusia.


Meskipun jarang terjadi, komodo diketahui dapat membunuh manusia, baik di alam liar maupun di penangkaran.

Menurut sebuah data dari Taman Nasional Komodo, dalam 38 tahun selama periode antara 1974 dan 2012, dilaporkan sebanyak 24 manusia telah diserang oleh komodo.

Kebanyakan para korban berasal dari penduduk lokal yang hidup di sekitar Taman Nasional. Laporan tersebut di antaranya :

Pada 2001, seekor komodo menyerang Phil Bronstein, seorang wartawan investigasi di Los Angeles Zoo.

Pada tanggal 4 Juni 2007, seekor komodo diketahui menyerang seorang anak laki-laki berumur delapan tahun. Anak ini kemudian meninggal karena perdarahan berat pada luka-lukanya. Ini adalah catatan pertama mengenai serangan komodo yang berakibat kematian selama 33 tahun terakhir.


Pada 2008, sekelompok penyelam berjumlah lima orang terdampar di pantai Pulau Rinca, dan diserang oleh komodo. Setelah dua hari, mereka akhirnya dibawa oleh tim penyelamat dari Indonesia.

Pada 2009, penduduk lokal berusia 31 tahun bernama Muhamad Anwar, dibunuh oleh dua komodo setelah dia terjatuh dari pohon ketika memetik apel.

Pada 2009, Maen, seorang pemandu taman nasional yang ditempatkan di Pulau Rinca, disergap dan digigit oleh komodo, yang berjalan menuju kantornya dan berbaring di bawah mejanya. Meski menderita akibat beberapa luka, dia berhasil selamat.

Pada 2017, turis Singapura berusia 50 tahun, Lon Lee Alle, diserang oleh komodo di Pulau Komodo. Dia berhasil selamat dari penyerangan tersebut, tetapi kaki kirinya terluka parah.

Kondisi Lon Lee Alle setelah diserang oleh komodo

Komodo pertama kali didokumentasikan oleh orang Eropa pada tahun 1910, ketika sebuah rumor tentang "land crocodile" terdengar oleh Letnan van Steyn van Hensbroek dari pemerintahan kolonial Belanda.


Rumor itu menyebar luas setelah tahun 1912, ketika Direktur Zoological Museum di Buitenzorg (kini Bogor), Peter Antonie Ouwens, menerbitkan surat kabar tentang komodo setelah menerima foto dan kulit dari Letnan, serta dua spesimen lainnya dari seorang kolektor.

Foto pertama komodo yang diambil oleh van Steyn van Hensbroek

Pertama kali dua komodo hidup tiba di Eropa, mereka dipamerkan di Reptil House di London Zoo yang dibuka pada tahun 1927.

Joan Beauchamp Procter melakukan beberapa observasi awal pada binatang ini di penangkaran dan memperlihatkan perilaku binatang tersebut pada pertemuan ilmiah Zoological Society of London di tahun 1928.

Komodo adalah faktor pendorong sebuah ekspedisi menuju Pulau Komodo oleh Douglas Burden di tahun 1926. Setelah kembali dengan 12 spesimen yang diawetkan dan 2 spesimen hidup, ekspedisi tersebut memberi inspirasi untuk terciptanya film King Kong tahun 1933.


W.Douglas Burden bersama dengan F.J Defosse di Pulau Komodo (1926)

Foto komodo yang diambil oleh William Douglas Burden
dan diterbitkan pada tahun 1927

Burden juga adalah orang yang menciptakan nama umum "Komodo dragon". Tiga dari spesimen miliknya di pamerkan di American Museum of Natural History.

William Douglas Burden

Foto komodo pada tahun 1927 selama ekspedisi Burden


Orang Belanda menyadari berkurangnya jumlah hewan ini di alam liar, sehingga melarang perburuan komodo dan membatasi jumlah hewan yang diambil untuk penelitian ilmiah.

Ekspedisi komodo terhenti selama terjadinya Perang Dunia ke-2, dan tidak dilanjutkan sampai dengan tahun 1950an dan tahun 1960an. Setelah itu, sebuah ekspedisi studi komodo dalam waktu jangka panjang dilakukan.

Tugas ekspedisi itu diberikan kepada keluarga Auffenberg, yang kemudian tinggal di Pulau Komodo selama 11 bulan pada tahun 1969.

Selama mereka tinggal, Walter Auffenberg dan asistennya Putra Sastrawan menangkap dan menandai lebih dari 50 ekor komodo.


Penelitian dari ekspedisi Auffenberg ini sangat berpengaruh dalam meningkatkan komodo di penangkaran. Penelitian-penelitian selanjutnya memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai sifat alami komodo, dengan ahli biologi Claudio Ciofi yang terus mempelajari makhluk itu.

Perkembangan evolusi komodo dimulai dengan genus Varanus yang berasal dari Asia sekitar 40 juta tahun yang lalu, dan kemudian bermigrasi ke Australia, di mana mereka berkembang menjadi bentuk raksasa (yang terbesar dari semuanya adalah Megalania).


Sekitar 15 juta tahun yang lalu, sebuah tabrakan (atau pertemuan) antara lempeng benua Australia dan Asia Tenggara memungkinkan varanid (biawak) besar untuk bergerak menuju wilayah yang sekarang dikenal sebagai kepulauan Indonesia, memperluas kawasan mereka sejauh Pulau Timor.

Penurunan permukaan air laut secara dramatis selama periode glasial terakhir dan pergerakan lempeng bumi mengakibatkan keberadaan komodo yang telah bermigrasi ke pulau di Indonesia menjadi terisolasi dari dunia luar, sehingga pada akhirnya komodo menjadi hewan endemik yang hanya dapat ditemukan di Indonesia.


Komodo dipercaya telah berevolusi dari nenek moyangnya yang berasal dari Australia sekitar 4 juta tahun yang lalu. Bukti fosil terbaru dari Queensland menyarankan bahwa komodo sebenarnya berevolusi di Australia sebelum menyebar ke Indonesia.

Pada tahun 1980, Taman Nasional Komodo didirikan untuk melindungi populasi komodo di beberapa pulau termasuk di Pulau Komodo, Rinca, dan Padar. Begitupun dengan Cagar Alam Wae Wuul dan Wolo Tado di Pulau Flores yang bertujuan untuk membantu melestarikan komodo.

Gambar komodo pada koin Rupiah Indonesia

Komodo masuk ke dalam daftar merah IUCN sebagai "spesies rentan" punah.

Saat ini komodo dilindungi di bawah peraturan pemerintah Indonesia dan Taman Nasional Komodo.

(Sumber : Wikipedia)

2 komentar: