Rabu, 04 Oktober 2017

Penemuan beberapa terowongan aneh di Amerika Selatan


Sekitar bulan April lalu, beberapa periset dan ahli geologi Brazil dan Bolivia telah menemukan beberapa terowongan aneh berukuran besar di Amerika Selatan, yang menurut mereka terowongan tersebut dibuat oleh sloth purba.

Berdasarakan penelitian yang telah dilakukan, terowongan tersebut diperkirakan berusia antara 8.000 sampai 10.000 ribu tahun. 


Bentuknya sangat rapi dan begitu besar, sehingga seseorang bisa berdiri di dalamnya.


Ahli geologi dari Universitas Federal Rio Grande do Sul, Heinrich Frank, mengatakan bahwa terowongan yang tidak biasa ini sama sekali tidak terlihat seperti terowongan atau gua pada umumnya.

"Terowongannya panjang, memiliki bagian melingkar, berliku-liku, dan tentu saja terdapat bekas cakaran di bagian atas dan di dindingnya. Anda dapat menemukannya di bebatuan yang tidak bisa dilarutkan, seperti batu granit, batu pasir dan lainnya."


Menurut periset, tidak ada proses geologis (alami) yang telah diketahui, yang dapat menjelaskan terbentuknya terowongan ini. Tapi, mereka kemudian menemukan tanda bekas cakaran besar yang menghiasi dinding, serta langit-langitnya.


Mereka pun memperkirakan bahwa itu adalah "paleoburrow" yang digali oleh spesies sloth tanah raksasa yang telah lama punah.

"Saya tidak tahu ada hal seperti paleoburrow. Saya seorang ahli geologi, profesor, dan saya belum pernah mendengar hal itu," ujar Heinrich Frank.

Kabarnya, para periset teleh mengetahui tentang terowongan ini sejak tahun 1930an, namun pada saat itu mereka menganggapnya sebagai semacam struktur arkeologi dari gua yang dulunya diukir oleh nenek moyang manusia.


Tepat di tahun 2010, ahli geologi Amilcar Adamy memutuskan untuk menyelidiki sebuah rumor tentang penemuan gua aneh tersebut.


"Aku belum pernah melihat hal yang seperti ini sebelumnya. Ini benar-benar menarik perhatian saya, dan itu tidak terlihat alami," ujar Adamy.

Beberapa tahun kemudian, Frank menemukan gua aneh yang jumlahnya bahkan mencapai ratusan, bertebaran (tersebar) melintasi Brazil.



Sewaktu Frank memasukinya, dia menyadari bahwa di dalamya sangatlah luas, dan terkadang bercabang menuju ruangan lain yang terpisah. 


Ketika melihat ke langit-langit pada permukaan granit, basalt, dan batu pasir yang lapuk, dia menemukan tanda atau bekas cakaran dari makhluk berukuran besar.


"Sebagian besar terdiri dari alur panjang dan dangkal yang sejajar satu sama lain, dan tampaknya dibuat oleh dua atau tiga cakar," Frank dan timnya menjelaskan dalam sebuah makalah tahun 2016.


"Alurnya kebanyakan mulus, tapi beberapa bekas cakaran yang tidak beraturan mungkin dihasilkan oleh cakar yang patah (atau rusak)."


"Beberapa strukturnya sepanjang ratusan meter, beberapa bercabang atau saling berpotongan satu sama lain, dan beberapa di antaranya memiliki permukaan halus, petak tanah kecil yang melingkar di sepanjang dasar (terowongan), mungkin digunakan oleh binatang besar itu untuk berbaring (istirahat)."


"Tida ada proses geologi di dunia yang menghasilkan terowongan panjang dengan bentuk bundar atau berbentuk bulat panjang, yang bercabang dan naik turun, dengan tanda bekas cakaran di dinding-dindingnya," Frank mengatakan kepada Discover.

Frank beserta rekan-rekannya memperkirakan sekitar setengah dari spesies mamalia bumi yang sekarang diklasifikasikan sebagai semi fosil, menghabiskan sebagian besar waktunya di dalam sebuah lubang, dan harus pergi keluar untuk mencari makanan.

Hal itu menunjukkan bahwa mereka menghabiskan seluruh hidup mereka di bawah tanah.


Berdasarkan ukuran struktur dan bekas cakar yang terlihat di dinding, para periset yakin bahwa mereka telah menemukan lubang peninggalan sloth dan armadillo raksasa.


Pada masa lalu, Amerika Selatan adalah rumah bagi hewan raksasa berlapis baja seperti holmesina dan pampatherium. 


Frank dan rekan-rekannya menduga bahwa hewan ini pasti bertanggung jawab atas beberapa paleoburrow tersebut.

Holmesina

Pampatherium

Para peneliti telah mengidentifikasikan dua jenis terowongan yang berbeda, yang mungkin diciptakan oleh setidaknya dua jenis hewan penggali yang berbeda pula.

Frank dan timnya tidak yakin apakah gua-gua yang luas itu digunakan untuk menghindari iklim, pemangsa, atau yang lainnya, karena liangnya jauh lebih kecil untuk kegunaan seperti itu.

"Tidak ada penjelasan. Bukan oleh predator, iklim, ataupun kelembaban. Saya benar-benar tidak tahu," ujar Frank.

Bisa jadi beberapa individu mewarisi liang itu dari generasi ke generasi, dan terus menambahkan struktur baru untuk membuatnya menjadi lebih besar.

Pernyataan lainnya juga mengatakan bahwa terowongan atau gua itu pastilah digali oleh banyak makhluk dari generasi ke generasi, bukan oleh satu atau dua sloth raksasa saja.


Sebelum para ilmuwan memberi penjelasan mengenai terowongan ini, masyarakat setempat telah menghubungkan keberadaan lubang tersebut dengan makhluk mitologi Brazil, termasuk Curupira (makhluk mitologi dari cerita rakyat Brazil), dan Boiuna (ular raksasa dari mitologi Brazil).

Sementara itu, pertanyaan tentang apa yang dilakukan binatang itu di dalam terowongan dan berapa lama mereka menggunakannya, masih menjadi pertanyaan bagi para periset yang menelitinya.

1 komentar: