Kamis, 26 Oktober 2017

Legenda Orang Pendek


Orang Pendek, atau juga dikenal sebagai Uhang Pandak (dari bahasa Kerinci lokal), adalah makhluk bipedal mirip kera yang dilaporkan menghuni hutan terpencil dan wilayah pegunungan di pulau Sumatra.

Orang pendek biasanya dilaporkan sebagai makhluk menyerupai primata setinggi 3-5 kaki (90cm - 1,5 meter), mempunyai bulu pendek berwarna abu-abu, atau hitam, dan terkadang berwarna kemerahan. Berkaki pendek dengan lengan panjang yang kuat.

Deskripsi lainnya menggambarkan makhluk ini memiliki bulu berwarna coklat keemasan, kuning atau orange, sehingga timbul dugaan bahwa yang mereka lihat mungkin seekor orangutan.

Ilustrasi Orang Pendek

Makhluk itu berjalan tegak dengan kedua kakinya (bipedal), dan tergolong omnivora, walaupun sebagian besar bersifat herbivora.

Ilustrasi Orang Pendek

Menurut penduduk desa kerinci, Orang Pendek memiliki kekuatan yang luar biasa, sehingga dapat mencabut pohon-pohon kecil dan menghancurkan tanaman rotan.

Buah yang diduga telah dimakan oleh Orang Pendek

Seorang peneliti Orang Pendek terkemuka bernama Debbie Martyr, telah bekerja di daerah tersebut selama lebih dari 15 tahun, dan telah mewawancarai ratusan saksi. 


Dia mengklaim telah melihat makhluk (atau hewan) itu secara langsung dalam beberapa kesempatan.

Dia memberikan deksripsi mengenai Orang Pendek, sebagai berikut :

"Biasanya tingginya tidak lebih dari 85 atau 90cm, meskipun terkadang yang terbesar berukuran 1,2 meter. Tubuhnya ditutupi lapisan abu-abu gelap atau hitam dengan rambut berwarna abu-abu. Bahu mereka lebar, dada serta perut bagian atas besar, dan lengannya kuat." 


"Hewan itu sangat kuat, penduduk desa mengatakan bahwa mereka dapat mencabut pohon-pohon kecil, bahkan menghancurkan tanaman rotan."

"Kakinya pendek dan ramping. Telapak kakinya bersih dan kecil, biasanya dapat terbalik hingga sudut 45 derajat. Lekukan kepala berjambul seperti gorila, dan tampak memiliki tonjolan tulang di atas matanya." 


"Mulutnya kecil. Kedua matanya terpisah jauh, dan hidungnya jelas sejenis humanoid. Ketika ketakutan, hewan ini akan memperlihatkan gigi-giginya, menampakkan gigi seri yang aneh dan gigi taring panjang yang dapat terlihat dengan jelas."

Penampakan yang dialami oleh penduduk setempat sering terjadi di lahan pertanian yang berada di tepi hutan, di mana Orang Pendek selalu terlihat berjalan melalui ladang dan merampas hasil panen, terutama jagung, kentang, dan buah-buahan.

Penduduk setempat yang berpengalaman di hutan, mengklaim bahwa Orang Pendek akan mencari berbagai tanaman atau makanan seperti akar jahe, tanaman yang dikenal oleh penduduk lokal sebagai "pahur" atau "lolo, tunas muda, serangga di batang kayu yang telah membusuk dan kepiting sungai. 


Dikatakan juga bahwa makanan favorit Orang Pendek adalah buah durian.

Suku Kubu, atau juga dikenal sebagai Suku Anak Dalam atau Orang Rimba, adalah salah satu suku normadik yang telah hidup di sepanjang hutan-hutan di dataran rendah Jambi dan Sumatra Selatan.

Berdasarkan legenda suku Kubu, Orang Pendek telah menjadi bagian dari dunia mereka yang telah menghuni hutan selama berabad-abad.

Penulis buku Hunting the Gugu, Benedict Allen, menulis bahwa kelompok orang ini (Suku Kubu) sering menyerahkan "persembahan" tembakau untuk menjaga, atau tetap membuat Orang Pendek bahagia.

Di Bukit Duabelas, Orang Rimba berbicara tentang makhluk yang dikenal sebagai Hantu Pendek, yang penggambarannya sangat cocok dengan Orang Pendek. 


Bagaimanapun, Hantu Pendek lebih cenderung digolongkan sebagai makhluk gaib atau iblis, daripada seekor binatang.

Penduduk lokal setempat menjadi sumber pengetahuan dan informasi terbesar mengenai Orang Pendek, karena ratusan dari mereka mengaku telah melihat makhluk itu secara pribadi, ataupun mendengarkan kisah dari orang lain yang telah bertemu dengan makhluk tersebut.

Salah satu laporannya menyebutkan jika Orang Pendek memiliki kaki yang terbalik, dan perilakunya seperti hantu.

Pada awal abad ke-20, pemukim Belanda mulai memperkenalkan kisah Orang Pendek di Sumatra kepada orang-orang barat.

Seperti kisah yang dialami oleh Mr. Van Heerwarden, yang menjelaskan pertemuannya ketika dia sedang melakukan survei daratan pada tahun 1923, dan kisah dari Mr. Oostingh, yang melihat makhluk aneh itu ketika berjalan di hutan.

"Saya menemukan makhluk gelap dan berbulu pada sebuah cabang pohon, yang berbulu di bagian depan tubuhnya. Warnanya tidak begitu gelap dibandingkan dengan bagian belakangnya. Rambut yang sangat gelap di kepalanya, jatuh tepat di bawah tulang belikatnya, atau bahkan hampir sampai di bagian pinggangnya." 


"Lengannya yang panjang hampir mencapai lutut bagian atas, tapi kakinya agak pendek. Saya tidak melihat kakinya (telapak kakinya), tapi saya melihat beberapa jari kaki yang bentuknya sangat normal. Tidak ada yang menjijikkan atau jelek pada wajahnya, (makhluk) itu juga tidak seperti kera," Tulis Van Heerwarden.


"Saya melihat bahwa makhluk itu berambut pendek, atau dipotong pendek. Saya tiba-tiba menyadari bahwa lehernya sangat kasar dan kotor. Tubuhnya sebesar ukuran medium penduduk asli, dan memiliki bahu persegi yang tebal, tidak miring sama sekali. Tingginya kira-kira setinggi saya. Lalu saya melihat bahwa itu bukanlah seorang pria. Itu juga bukan seekor orangutan." 


"Saya pernah melihat salah satu kera besar ini beberapa waktu sebelumnya. (Makhluk) itu lebih mirip siamang yang sangat besar, tetapi seekor siamang memiliki rambut panjang, dan tidak diragukan lagi bahwa (makhluk) itu berambut pendek," Tulis Oostingh.


Debbie Martyr bersama dengan fotografer Inggris, Jeremy Holden, terlibat dalam proyek 15 tahun yang didanai oleh Fauna and Flora International, dimulai pada awal tahun 1990an. 


Ruang lingkup proyek tersebut adalah mendokumentasikan laporan saksi mata mengenai makhluk tersebut, dan mencoba mendapatkan bukti keberadaaanya melalui metode perangkap kamera.

Mereka tidak berhasil membuktikan keberadaanya, namun mereka berhasil mengumpulkan beberapa cetakan kaki yang kabarnya berasal dari Orang Pendek, dan mengklaim telah melihat makhluk itu secara pribadi pada beberapa kesempatan saat tengah bekerja di hutan.




Dari tahun 2001 sampai tahun 2003, para ilmuwan menganalisis rambut dan cetakan kaki yang ditemukan oleh tiga pria yaitu, Adam Davies, Andrew Sanderson dan Keith Towley, saat mereka bepergian ke Kerinci.

Ahli biologi primata dari Universitas Cambridge, Dr. David Chivers, membandingkan cetakan tersebut dengan primata yang telah diketahui, maupun dari hewan lokal.

"Cetakan jejak kaki ini pastinya milik seekor kera dengan perpaduan unik antara siamang, orangutan, simpanse, dan manusia. Dari pemeriksaan lebih lanjut, cetakan tersebut tidak sesuai dengan spesies primata yang telah diketahui, dan saya dapat menyimpulkan bahwa (cetakan) ini mengarah kepada keberadaan primata besar yang tidak diketahui di hutan Sumatra," Ujarnya.


Seorang analisis rambut dari Australia, Hans Brunner, membandingkan sampel rambut itu dengan primata maupun hewan lokal lainnya, dan mengatakan bahwa mereka (mungkin) berasal dari spesies primata yang tidak terdokumentasikan.

Sebuah proyek perangkap kamera yang didanai oleh National Geographic, dipimpin oleh Dr. Peter Tse dari Dartmouth College, berusaha mendokumentasikan foto Orang Pendek, namun harus berakhir pada tahun 2009 tanpa hasil apapun.

Saksi mata yang pernah melihatnya menggambarkan Orang Pendek sebagai spesies primata yang belum terdokumentasikan, sehingga muncul dugaan bahwa spesies hominin (kerabat dekat manusia) awal masih hidup dan tinggal di hutan Sumatra.


Beberapa dugaan Orang Pendek sebagai hewan yang telah diketahui :

Banyak penduduk setempat yang mengatakan bahwa Orang Pendek terlilhat seperti anak kecil, hal itu dibuktikan dengan penemuan cetakan kaki yang mereka temukan saat berjalan melalui hutan.


Namun, klaim tersebut memicu dugaan lain yang menyebutkan bahwa jejak itu mungkin berasal dari hewan lokal, contohnya beruang madu.


Beruang juga dikenal memiliki bentuk kaki yang terlihat sangat mirip dengan manusia, dan ukuran beruang madu serupa dengan ukuran seorang anak kecil.


Selain beruang madu, kesalahan identifikasi primata seperti siamang, owa, atau orang Utan, mungkin telah disalahartikan sebagai Orang Pendek.

Owa

Sebagaimana telah diketahui bahwa Siamang memang mendiami kawasan hutan di wilayah tersebut, dan terkadang turun ke tanah untuk sekedar berjalan selama beberapa detik dengan kedua kakinya.

Siamang

Dugaan lainnya mengatakan bahwa Orang Pendek adalah orangutan, tetapi saksi mata hampir tidak pernah menggambarkan makhluk itu memiliki bulu orange.

Orangutan

Banyak yang mengusulkan bahwa Orang Pendek sebenarnya mewakili genus primata atau spesies baru, atau juga mungkin subspesies dari orangutan, maupun siamang.

Center for Fortean Zoology yang berbasis di Inggris, telah melakukan lima ekspedisi ke Sumatra untuk mencari Orang Pendek. 


Mereka telah menemukan rambut, jejak kaki, mendengar vokalisasi (suara), dan penampakan Orang Pendek yang terjadi pada tahun 2009.

Berdasarkan bentuk cetakan kaki dan analisis rambut terbaru oleh Universitas Copenhagen, mereka mengusulkan bahwa Orang Pendek adalah spesies baru atau spesies berjalan tegak dari orangutan yang bertempat tinggal di tanah.

(Sumber : Wikipedia)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar