Selasa, 10 Oktober 2017

Legenda Ebu Gogo


Ebu Gogo adalah sekelompok makhluk mirip manusia (humanoid) yang muncul dalam mitologi Flores, Indonesia. Dalam bahasa yang digunakan suku Nage, ebu berarti "nenek" dan gogo berarti "dia yang memakan apapun".

Penduduk suku Nage di Flores menggambarkan Ebu Gogo sebagai makhluk setinggi 1,5 meter yang memiliki hidung lebar dan datar, wajah lebar dengan mulut besar, dan tubuh dipenuhi bulu.


Ebu Gogo betina (atau perempuan) memiliki payudara panjang dan terjumbai.

Mereka dikatakan telah bergumam atau berbisik dalam apa yang diangggap sebagai bahasa mereka sendiri, dan dilaporkan bisa mengulangi atau menirukan perkataan yang dikatakan kepada mereka, seperti yang dilakukan burung kakatua.

Menurut jurnal Nature, legenda yang berkaitan dengan Ebu Gogo secara tradisional dikaitkan dengan monyet.


Penduduk suku Nage percaya bahwa Ebu Gogo masih hidup saat kedatangan kapal perdagangan milik Portugis pada abad ke-17, dan beberapa di antaranya berpendapat bahwa mereka bertahan hidup sampai akhir abad ke-20, namun sekarang mereka tidak pernah terlihat lagi.


Ebu Gogo diyakini telah diburu hingga punah oleh penduduk Flores.

Mereka percaya bahwa pemusnahan yang memuncak sekitar tujuh generasi yang lalu, disebabkan karena Ebu Gogo telah mencuri makanan dari tempat tinggal manusia dan menculik anak-anak manusia.

Sebuah artikel dalam New Scientist (Vol. 186, No. 2504) ikut memberitakan cerita rakyat Flores tentang Ebu Gogo. 


Pada abad ke-18, penduduk Nage di Flores Tengah, menceritakan bagaimana penduduk desa "memusnahkan" Ebu Gogo dengan cara menipu mereka dengan memberikan hadiah berupa serat palem untuk membuat pakaian.

Ketika Ebu Gogo mengambil serat itu ke gua mereka, penduduk desa melemparkan "puntung berapi" (atau potongan kayu terbakar) untuk membuatnya terbakar.

Cerita itu berlanjut dengan semua penghuni (gua) itu terbunuh, kecuali mungkin satu pasangan yang berhasil melarikan diri ke bagian hutan terdalam, dan keturunannya mungkin masih tinggal di sana.

Ada juga legenda tentang penculikan Ebu Gogo terhadap anak manusia, dengan harapan bisa belajar cara memasak dari mereka. 


Dalam kisahnya, Anak-anak selalu dengan mudah mengecoh Ebu Gogo.

Penemuan sisa-sisa hominin (kerabat dekat manusia) setinggi sekitar satu meter di Flores, yaitu homo floresiensis, yang mungkin telah telah berusia 50.000 tahun, sepertinya telah menginspirasi kisah dari legenda Ebu Gogo.

Gua tempat penemuan spesimen Homo Floresiensis di pulau Flores

Tengkorak Homo Floresiensis

Perbandingan ukuran manusia dengan Homo Floresiensis

Profesor antropologi di University of Alberta (Kanada), Gregory Forth, telah menyatakan bahwa mitos "manusia liar" sudah menjadi hal yang biasa terjadi di Asia Tenggara.

Dia telah mempelajari bahasa dan ritual mereka, dan berspekulasi bahwa homo floresiensis merupakan bukti bahwa kisah Ebu Gogo dan makhluk serupa lain, seperti orang pendek di Sumatra, mungkin berakar pada kenyataan bahwa mereka dulunya pernah hidup berdampingan dengan manusia, bukan hanya makhluk mitos semata.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar