Kamis, 26 Oktober 2017

Legenda Almas


Almas atau Alma (Bahasa Mongolia untuk "manusia liar") adalah makhluk cryptid sejenis kera purba yang dikenal tinggal di Pegunungan Kaukasus, Pegunungan Pamir di Asia Tengah, dan Pegunungan Altai di Mongolia Selatan.

Variasi nama Almas lainnya adalah Almasti (Almasty), Almaslar, Bnahua, dan Ochokochi.

Berdasarkan penampilan dan kebiasaanya, Almas lebih mirip dengan "manusia liar" daripada seekor kera.

Almas biasanya digambarkan sebagai makhluk bipedal seperti manusia yang memiliki tinggi sekitar 5 sampai 6,5 kaki (1,5 - 1,9 meter), tubuh yang ditutupi oleh rambut berwarna cokelat tebal atau cokelat kemerahan. 


Struktur tengkoraknya memiliki alis yang menonjol, dahi miring, hidung rata dan rahang yang menonjol. Kaki mereka besar dengan jari yang panjang. Seluruh anggota badan benar-benar tertutup rambut, kecuali tangan mereka.

Deskripsi Almas sering dianggap mirip dengan Yeti di Himalaya. 


Dikatakan juga bahwa mereka menyerupai manusia yang hidup di dalam gua.


Almas muncul dalam legenda masyarakat setempat, serta kisah penampakan maupun interaksi Almas dengan manusia telah dimulai beberapa ratus tahun sebelumnya.


Gambaran Almas juga muncul dalam sebuah buku obat (penyembuhan) Tibet.

Antropolog Inggris, Myra Shackley mencatat bahwa buku-buku itu berisi ribuan ilustrasi berbagai kelas binatang, seperti reptil, mamalia, dan amfibi, tetapi tidak dengan ilustrasi hewan mitologi tunggal dari buku Eropa Abad Pertengahan. 


Semua makhluk dalam buku tersebut hidup dan dapat dilihat di masa sekarang.



Penampakan yang tercatat secara tertulis, berlangsung sampai abad ke-15.

Pada tahun 1420, Hans Schiltberger mencatat pengamatan pribadinya tentang makhluk-makhluk ini dalam jurnal perjalanannya ke Mongolia sebagai tahanan Khan Mongol. 


Dia juga mencatat penampakan Przewalski horses (spesies kuda yang hampir punah, namun masih dapat ditemukan di Mongolia) oleh orang-orang Eropa.

Dia mencatat bahwa Almasty adalah bagian dari penduduk asli Mongolia yang berhubungan dengan pengobatan medis Tibet, bersama dengan ribuan binatang dan tumbuhan lainnya yang masih hidup sampai sekarang.

Dalam buku berjudul Still Living ? milik antropolog Inggris, Myra Shackley, dia menggambarkan pengamatan yang dilakukan Ivan Ivlov's pada tahun 1963 tentang kelompok keluarga Almas.


Ivlov, yang juga seorang "penyembuh anak-anak" memutuskan untuk mewawancarai beberapa anak-anak Mongolia yang juga merupakan pasiennya, dan mendapat informasi bahwa banyak dari mereka telah melihat Almas. 


Baik anak-anak Mongolia maupun "Almas berusia muda", keduanya tidak takut satu sama lain. 

Pengemudi Ivlov's juga mengklaim telah melihat Almas.

Dugaan penangkapan Almas

Seorang "wanita liar" bernama Zana dikatakan telah lama tinggal di pegunungan terpencil desa T'khina, 50 mil dari Sukhumi di Abkhazia, Kaukasus.

Beberapa spekulasi mengatakan bahwa dia mungkin termasuk Almas, tapi bukti lainnya menunjukkan bahwa dia adalah seorang manusia.


Berikut adalah sedikit kisah mengenai Zana :

Pada tahun 1850, sekelompok pemburu sedang berkeliaran melintasi wilayah hutan untuk mencari apa pun yang dapat mereka temukan, saat mereka tercengang karena melihat seekor betina atau seorang wanita muda, namun ciri-cirinya terlihat seperti kera. 


Dengan susah payah mereka menangkap wanita tersebut, lalu membawanya ke desa terpencil, dan kemudian diserahkan kepada seorang bangsawan bernama Edgi Genaba sebagai pelayan.

Meski dia bukan seekor kera, Zana tidak sepenuhnya terlihat seperti manusia. 


Dia memiliki tangan, kaki dan jari yang tebal, dada yang besar, dan tertutupi oleh rambut hitam. 

Pada masa penahanan pertama, dia harus dikurung dalam sebuah sangkar karena perilakunya yang ganas.


Detail mengenai kehidupannya di desa tersebut tidak begitu jelas, namun perilakunya menjadi jinak seiring berjalannya waktu, dan saat itulah dia diberi nama Zana. Dia diajari untuk melakukan tugas rumah seperti menggiling jagung dan membawa kayu.

Zana tidak suka dengan ruangan yang panas. Dia selalu menolak menggunakan pakaian, dan akan menjadi agresif saat mencoba untuk berpakaian. Dia lebih memilih berjalan telanjang, meski sedang dalam musim dingin sekalipun.

Dia bisa mengangkat karung tepung seberat 80kg dengan satu tangan tanpa bersusah payah, memanjat pohon untuk mengambil buah anggur kesukaannya, berkeliaran di malam hari, dan pada hari-hari yang hangat, dia akan beristirahat di kolam air dingin bersama dengan kerbau.

Ada sebuah kabar yang mengatakan bahwa dia bisa berlari lebih cepat dari seekor kuda.

Zana diketahui tidak pernah belajar berkomunikasi melalui ucapan manusia, namun rupanya dia telah mengembangkan kemampuan sosialnya setelah melahirkan beberapa anak miliknya.

Zana dikatakan memiliki beberapa anak dari sejumlah pria yang telah berhubungan seksual dengannya. 


Dia selalu melahirkan tanpa bantuan orang lain, dan banyak anaknya tidak selamat selama proses kelahiran. Kabarnya hal ini disebabkan karena ketidakcocokan gen Zana dengan gen pria (homo sapien).

Beberapa anaknya meninggal pada masa bayi (masa pertumbuhan). Setidaknya salah satu anaknya mati karena Zana mencoba memandikannya di sebuah sungai yang dingin (membeku).

Zana juga telah berhubungan seksual dengan Edgi Genaba, dan melahirkan beberapa anak yang tampak normal.


Sementara itu, sang ayah menyerahkan keempat anaknya yang masih hidup ke keluarga setempat di desa tersebut. 


Dua anak laki-laki bernama Dzhanda (lahir 1878) dan Khwit Genaba (lahir 1884), dan dua anak perempuan bernama, Kodzhanar (lahir 1880) dan Gamasa Genaba (lahir 1882). 

Mereka telah menjadi masyarakat yang normal, dan diajari untuk berbicara. Anak-anak Zana juga telah menikah dan memiliki keluarganya sendiri.

Zana meninggal pada tahun 1890 (keberadaan kerangkanya tidak diketahui), sedangkan Khwit yang menurut rumor adalah anak dari Edgi Genaba sendiri, bertahan hidup sampai tahun 1954.

Ilustrasi Zana

Cucu perempuan Zana

Khwit sendiri tampaknya mewarisi sebagian besar ciri wajah ayahnya (Edgi Genaba).

Khwit

Menurut peneliti, cucu-cucu Zana memiliki kulit gelap, wajah negroid (ras penghuni benua Afrika), dan sangat kuat.

Tengkorak dari Khwit (anak dari Zana) masih utuh dan diperiksa oleh Grover Krantz pada awal 1990an.



Dia mengatakan bahwa (tengkorak) itu sepenuhnya jelas modern (berasal dari orang modern), tanpa ciri khas dari neanderthal sama sekali. 


Laporan lain dari Antropolog Rusia, M.A.Kolodieva, mendeskripsikan bahwa tengkoraknya secara signifikan berbeda dengan laki-laki normal dari Abkhazia. 

Tengkorak itu mendekati "fosil tengkorak Neolitik Vovnigi II".


Pada film dokumenter Channel 4 tahun 2013, Bigfoot Files, Bryan Sykes dari Universitas Oxford menunjukkan bahwa DNA zana adalah 100% berasal dari Sub-Sahara Afrika, dan dia mungkin telah menjadi budak yang dibawa ke Abkhazia oleh Kekaisaran Ottoman.

Namun, Sykes memiliki pertanyaan lain, "apakah Zana berasal dari populasi orang Afrika yang meninggalkan benua itu puluhan ribu tahun sebelumnya, karena tengkorak anaknya (Khwit) memiliki beberapa karakteristik unik dan kuno."

Perlu dicatat bahwa Sykes hanya melihat mtDNA (DNA dari sisi ibu), dan tidak melihat nuDNA (DNA garis keturunan ayah), sehingga klaim Zana berasal dari Sub-Sahara Afrika hanyalah kesimpulan yang tidak akurat, karena terbatasnya sampel tes DNA.

Pada tahun 2015, Sykes melaporkan bahwa dia telah melakukan tes DNA terhadap sampel air liur dari enam kerabat keluarga Zana yang masih hidup serta sebuah gigi dari putranya (Khwit), dan menyimpulkan bahwa Zana 100% berasal dari Afrika, tetapi tidak berasal dari kelompok yang telah diketahui, sekaligus membantah teori bahwa Zana adalah seorang budak kekaisaran Ottoman.

Sykes percaya bahwa nenek moyang Zana meninggalkan Afrika sekitar 100.000 tahun yang lalu, dan memilih tinggal atau hidup di daerah terpencil Kaukasus selama beberapa generasi.

Teori lain mengklaim bahwa Zana mungkin adalah spesies relik dari homo rhodesiensis (didasarkan pada struktur tengkorak Khwit).

Tengkorak Homo rhodesiensis

Homo rhodesian

Selain Zana, ada kasus lain tentang penangkapan "manusia liar" yang dikatakan terjadi sekitar tahun 1941 yang lalu.

Seorang "manusia liar" berhasil ditangkap di suatu tempat di Kaukasus oleh Tentara Merah. 


Dia tampak seperti manusia, hanya saja tubuhnya tertutup oleh rambut halus dan gelap. Proses Interogasi mengungkapkan ketidakmampuannya (atau keengganannya) untuk berbicara, sehingga pada akhirnya dia ditembak (sebagai dugaan bahwa dia mungkin mata-mata Jerman).

Kisah lainnya datang dari peristiwa "penembakan Almas" di daerah pegunungan Tamir.

Pada 1925, Jenderal besar tentara Soviet, Mikhail Stephanovitch Topilski, memimpin pasukannya dalam sebuah serangan terhadap pasukan gerilya anti-soviet, yang bersembunyi di gua-gua wilayah gunung Pamir.

Mereka lalu menemukan sebuah gua yang sepertinya menjadi tempat bersembunyi pasukan gerilya. 


Seorang komandan lalu menyuruh anak buahnya untuk menembakkan api ke mulut gua tersebut.


Betapa terkejutnya mereka ketika makhluk liar berbulu berlarian keluar dari mulut gua dengan tangisan tidak jelas, menuju tempat di mana hujan peluru langsung mengenai mereka, membuat mereka jatuh ke tanah dengan luka parah. 


Seorang petugas bersama pasukan lainnya bergerak mendekat menuju makhluk yang tergeletak itu, sebelum akhirnya makhluk itu benar-benar dalam keadaan tidak bernyawa.


Topilski kemudian meminta untuk memeriksa puing-puing tempat kejadian itu terjadi dan menemukan tubuh makhluk "berbulu" yang mereka cari.

Berikut adalah laporan Topilski mengenai deskripsi makhluk tersebut :

"Sekilas saya pikir tubuhnya mirip kera. Seluruh tubuhnya ditutupi rambut. Tetapi saya tahu bahwa tidak ada kera yang hidup di Pamir, dan juga tubuhnya sendiri terlihat sangat mirip dengan manusia." 


"Kami mencoba menarik rambutnya, untuk memastikan jika itu bukan salah satu bentuk penyamaran, namun saya menyadari bahwa itu merupakan rambut asli dari makhluk itu sendiri."

"Kami membalikkan badannya ke depan dan ke belakang beberapa kali dan mulai mengukurnya. Makhluk itu berjenis kelamin laki-laki berukuran 165 sampai 170 cm. Pada beberapa bagian tubuhnya memiliki rambut berwarna abu-abu."

"Wajahnya gelap, dan bagian belakang kepalanya tertutupi rambut kusut yang tebal. Makhluk itu tergeletak dengan mata terbuka dan gigi yang juga terbuka. Matanya gelap dan bentuk giginya seperti manusia namun lebih besar."

"Dahinya miring dan alisnya sangat kuat sekali. Tonjolan tulang rahang yang menonjol, membuat wajahnya menyerupai tipe wajah orang Mongolia."

"Hidungnya rata dengan bagian jembatan hidup yang tenggelam ke dalam. Telinganya tidak berambut dan terlihat lebih runcing daripada manusia dengan cuping lebih panjang."

"Rahang bawahnya sangat besar. Makhluk itu memiliki dada yang kuat dan otot yang berkembang dengan baik. Panjang lengannya normal, sedangkan tangannya sedikit lebih lebar dibanding manusia, dan kakinya lebih lebar dan lebih pendek daripada kaki manusia."

Salah seorang pasukan gerilya yang selamat mengatakan bahwa ketika berada di sebuah gua, dia bersama rekan-rekannya sempat diserang oleh beberapa makhluk berwujud seperti kera.

Myra Shackley dan Bernard Heuvelmans berspekulasi bahwa Almas adalah populasi relik dari neanderthal, sementara Loren Coleman mengusulkan bahwa Almas adalah spesies homo erectus yang berhasil bertahan hidup.



Laporan dari sejarawan Rusia, Profesor Boris Porchnev di tahun 1964, menjelaskan bahwa Almas tampaknya memiliki tengkorak berbentuk kerucut serta struktur gigi serupa dengan manusia, kecuali taring yang lebih besar.

Dia bahkan mengklaim telah bertemu dengan keturunan Almas yang dikelompokkan dalam keluarga yang tinggal di sebuah lubang di tanah.


Porchnev lebih jauh menggambarkan mereka sebagai makhluk mirip manusia yang memiliki kemampuan berenang dan berlari sangat baik, memiliki aroma bau busuk, dan makanan yang terdiri dari mamalia kecil, sayuran dan buah-buahan.

Almas adalah makhluk nomaden (hidup berpindah-pindah), yang telah melakukan perjalanan melewati wilayah Mongolia, di mana mereka sering telihat oleh para petani dan penduduk desa setempat.

Cerita dan laporan yang berasal dari lima puluh tahun terakhir, telah menemukan kelompok Almas di pegunungan Kaukasus dekat Rusia dan Laut Hitam. 


Artefak dan bukti keberadaan Almas juga telah ditemukan di pegunungan Pamir di Asia Tengah.

Igor Bourstev memegang cetakan jejak kaki Almas

Sebuah tim ekspedisi yang dipimpin oleh cryptozoologist Rusia, Dr. Marie-Jeanne Kofman dan seorang Prancis bernama Sylvain Pallix pada tahun 1992, dibuat dengan tujuan untuk menemukan Almas.

Data yang berhasil mereka dapatkan adalah gambaran Almas sebagai makhluk berbulu besar, beratnya mencapai 227 kg, dan mereka adalah makhluk malam (nokturnal), yang dapat berlari secepat 40 mil per jam. 


Satu-satunya bukti kuat yang bisa diperoleh Kofman adalah sampel berupa rambut, jejak kaki dan kotoran Almas.


Laporan penampakan terakhir Almas terjadi di dekat bagian Selatan Mongolia, di sepanjang Pegunungan Altai, dan di Tien Shan yang terletak di dekat perbatasan Utara China.

(Sumber : Wikipedia)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar